12 December 2019, 16:34 WIB

Ubah Format UN, Kemendikbud Kedepankan Kemampuan Nalar Siswa


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/M Yakub
 MI/M Yakub
Sebanyak 18.786 pelajar SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kabupaten Lamongan, Jatim, serentak mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)

KEPALA Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno mengatakan upaya perubahan sistem Ujian Nasional (UN) menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Dilakukan untuk lebih mengedepankan kemampuan nalar siswa.

"Pertama, UN tidak dihapuskan tapi diganti dengan evaluasi atau asesment yang insyaallah lebih baik. Kenapa?, Karena kita ingin asesment nanti lebih mengarahkan kepada asesment terhadap tingkat penalaran siswa," kata Totok saat di temui di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (12/12).

Menurutnya, selama ini UN didominasi oleh penguasaan konten mata pelajaran. Padahal yang dibutuhkan ke depannya oleh siswa adalah kemampuan bernalar.

"Jadi kalau UN didominasi oleh penguasaan konten dari mata pelajaran, Ke depan dituntut kepada siswa kita ini untuk thinking skill (kemampuan bernalar), perubahannya itu. Lebih ke penguasaan skill logic, critical thinking," imbuhnya.

Baca juga: Jokowi Dukung Mas Menteri Nadiem Hapus UN

Ia menyebutkan nantinya bentuk penilaian assesment ini akan seperti soal-soal Program for International Student Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Assessment Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI), namun lebih diperluas dengan survei karakter.

"Mirip PISA, TIMSS, AKSI. AKSI ini embrionya tapi akan kita perluas termasuk survei karakter, karakter yang diperlukan anak-anak ke depan seperti Pancasialis, gotong royong, kolaborasi, nasionalismenya, karakter keilmiahannya, hingga saintifik thinking," jelasnya.

Saat disinggung mengenai akan menurunnya motivasi anak karena tidak ada UN, Totok mengatakan kemampuan anak tidak bisa dibangkitkan pada saat ujian saja, harus dalam kesehariannya.

"Melalui penilaian yang formatnya sudah berubah itu, maka bisa diketahui bagaimana kemampuan anak yang sebenarnya," ucapnya.

Totok menambahkan guru-guru nantinya harus melakukan penilaian yang sifatnya formatif atau perbaikan secara terus-menerus. Semangat belajar harus dibangkitkan dalam keseharian, melalui penilaian harian, mingguan dan bulanan.(OL-5)

BERITA TERKAIT