12 December 2019, 14:20 WIB

Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Sosiologi, PDIP Apresiasi Haedar


Insi Nantika Jelita | Humaniora

ANTARA FOTO/Andreas Fitri
 ANTARA FOTO/Andreas Fitri
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri) menyampaikan pidato ilmiah saat Pengukuhan Guru Besar di UMY

PDI Perjuangan mengucapkan selamat atas pemberian gelar akademik tertinggi kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Sosiologi, Kamis (12/12) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Beliau sosok yang rendah hati, sempurna pandangan pemikirannya untuk kebesaran Muhammadiyah, kemaslahatan umat, dan tentu saja untuk kemajuan Indonesia Raya,” ujar Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam keterangan resminya, Jakarta, Kamis (12/12).

Menurut Hasto, apa yang disampaikan oleh Haedar Nashir soal mengedepankan moderasi sebagai metode mengatasi masalah dengan cara mengatur, memandu dan mengedepankan dialog serta lebih memilih cara persuasif dan komunikasi interaktif merupakan terobosan yang sesuai dengan tata budaya Indonesia.

“Pendapat Beliau bahwa radikalisme yang dilawan dengan cara radikal akan menciptakan radikalisme baru adalah suatu kritik. Dengan moderasi, maka penangganan berbagai bentuk ekstrimisme di ranah agama, politik, dan ekonomi akan dilakukan dalam persepktif yang lebih luas. Moderasi bertopang pada kemanusiaan dan keadilan,” terang Hasto.

Baca juga: Haedar Usulkan Istilah Deradikalisasi Jadi Moderasi

Gagasan Haedar Nashir, lanjut Hasto, Pancasila dimaknai sebagai komitmen kebangsaan agar Indonesia tidak terombang-ambing pada tarik menarik kepentingan ekstrim kiri dan kanan.

"Selamat untuk Prof Dr Haedar Nashir, M.Si. Gelar guru besar tersebut membuktikan kuatnya tradisi keagamaan sekaligus tradisi intelektual yang hidup di Muhammadiyah,” tukas Hasto.

Haedar Nashir menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul "Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologi".

Pengukuhan Haedar dihadiri sejumlah menteri, mantan menteri dan tokoh termasuk Wakil Presiden periode 2014-2019 Jusuf Kalla.

Sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju hadir, seperti Menko PMK Muhadjir Effendy, Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Koperasi Teten Masduki, Mensesneg Pratikno, mantan menteri Susi Pudjiastuti, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Malik Fadjar dan Buya Syafii Maarif.

Dalam satu bagian pidatonya, Haedar menyampaikan moderasi Indonesia sebagai pandangan dan orientasi tindakan untuk menempuh jalan tengah atau moderat merupakan keniscayaan bagi kepentingan masa depan Indonesia yang sejalan dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita kemerdekaan.

"Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk radikalisme baik dari tarikan ekstrem ke arah liberalisasi dan sekularisasi maupun ortodoksi dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya dan keagamaan yang menyebabkan Pancasila dan agama-agama kehilangan titik moderatnya yang autentik di negeri ini," ujar Haedar.(OL-5)

BERITA TERKAIT