12 December 2019, 11:02 WIB

KPK Periksa Komisaris Garuda Indonesia


Juven MS | Politik dan Hukum

MI/MOHAMAD IRFAN
 MI/MOHAMAD IRFAN
Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Eddy Purwanto Poo

KOMISARIS PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Eddy Purwanto Poo dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia akan diperiksa terkait dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HDS (Direktur Teknik dan Pengelola Armada PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (12/12).

Penyidik juga memanggil enam saksi lain. Mereka yakni mantan VP Aircraft Maintenance Management Garuda Indonesia Batara Silaban; Senior Manager Engine Management Garuda Indonesia Azwar Anas; dan VP Enterprise Risk Management and Subsidiaries Garuda Indonesia E Enny Kristiani.

Baca juga: KPK akan Surati Jokowi Soal Bantuan Dana Parpol

Kemudian, CEO PT ISS Indonesia Elisa Lumbatoruan; mantan VP Aircraft Maintenance Garuda Indonesia Dodi Yasendri; dan seorang ibu rumah tangga bernama Dessy Fadjriaty.

"Pemeriksaan keenam saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka yang sama," kata Febri.

Hadinoto bersama mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, dan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi Soetikno Soedardjo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero).

Ketiganya diduga menerima sejumlah uang dari perusahaan Rolls-Royce atas pengadaan pesawat pada tahun anggaran 2008-2013.

Emirsyah dan Soetikno menerima suap dalam bentuk uang transfer dan aset yang nilainya mencapai lebih dari US$4 juta atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris yakni Rolls-Royce.

Pemberian suap melalui Soetikno dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd.

Suap terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. Emirsyah juga disinyalir menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.

Dari hasil pengembangan, Emirsyah dan Soetikno kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus TPPU. Emirsyah diduga membeli rumah yang beralamat di Pondok Indah senilai Rp5,79 miliar.

Emirsyah juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura sebanyak US$680 ribu dan 1,02 juta euro. Termasuk, melunasi apartemennya di Singapura seharga S$1,2 juta. Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan plat merah tersebut. (OL-2)

BERITA TERKAIT