12 December 2019, 03:25 WIB

Revitalisasi Industri Tekstil, Rebut Pasar Domestik


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Industri tekstil

BADAN Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) siap memfasilitasi para pengusaha tekstil Tanah Air untuk merevitalisasi industri ini. BKPM mendorong para pengusaha untuk kembali meningkatkan produksi agar pasar Indonesia tidak terus dibanjiri tekstil impor.

"Kita tahu, banyak produk dari luar yang melakukan penetrasi ke Indonesia. Sampai kemudian kita cek ke pasar-pasar, seperti Tanah Abang, itu sulit sekali menemukan made in Indonesia," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia di Kantor BKPM, kemarin.

Bahlil membeberkan bahwa ada beberapa permasalahan yang dialami industri tekstil dalam negeri. Menurut dia, tekstil impor memiliki harga dan kualitas yang lebih baik. Itu yang memengaruhi permintaan tekstil impor terus meningkat.

Bahlil mengatakan faktor tenaga kerja di Indonesia yang mahal berdampak pada harga yang tidak kompetitif dengan tekstil impor. Begitu pula dengan mesin-mesin di beberapa industri tekstil dalam negeri yang belum dimutakhirkan.

"Kemudian kita mencari solusi agar harga yang ada di kita itu tidak terlalu berbeda dengan harga negara lain yang melakukan impor ke kita," imbuhnya.

BKPM, lanjut Bahlil, bersama pengusaha tekstil pun memutuskan untuk melakukan revitalisasi industri tekstil. Menurutnya, industri tekstil perlu didorong untuk kembali menguasai pasar domestik, bahkan kemudian mampu menyasar pasar luar negeri.

Dijelaskannya lebih lanjut bahwa BKPM bersama pemerintah pun perlu mendorong perbankan untuk melakukan penetrasi terhadap UMKM yang mendukung industri tekstil. Kemudian dari pemerintah sendiri perlu adanya harmonisasi regulasi untuk turut mendukung berkembangnya tekstil Tanah Air.

"Ketika regulasi itu memberatkan mereka, tidak akan kompetitif dengan produk-produk impor. Nah, harapan kita ke depan ini sinergi yang kemudian melahirkan suatu keputusan yang win-win solution. Menguntungkan pengusaha dan negara," ungkap Bahlil.

Karena itu, BKPM mengagendakan pertemuan antara kementerian teknis dan para pengusaha minggu depan. Hal itu untuk mempercepat eksekusi terkait dengan kepastian regulasi.

 

Biaya revitalisasi

Bahlil memperkirakan investasi biaya revitalisasi industri tekstil mencapai Rp175 triliun. Biaya sebesar itu untuk industri hulu dan hilir demi memperbaiki serta meningkatkan produk yang berdaya saing.

"Kalau tidak salah itu Rp175 triliun, ya. Itu dibagi untuk hulu dan hilir. Mesinnya itu paling Rp75 triliun. Kita minta kepada mereka (pengusaha), mana yang menjadi prioritas, kita cari solusi," lanjutnya.

Menurut Bahlil, revitalisasi industri tekstil merupakan masalah serius yang harus ditangani bersama antara pengusaha dan pemerintah. Pasalnya, saat ini pasar tekstil Tanah Air banyak dibanjiri produk impor dengan harga yang lebih murah dan kompetitif.

"Ini persoalan bangsa. Makanya kita akan mengklasifikasi mana yang prioritas yang kemudian melahirkan daya saing. Kita membantu pengusaha dan negara juga," imbuhnya.

Sementara itu, Pengurus Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia Sutanto mengatakan biaya sebesar Rp175 triliun itu untuk revitalisasi selama 7 tahun. Dengan adanya revitalisasi tersebut, dia memperkirakan devisa negara akan terdongkrak hingga 10 kali lipat. (E-3)

BERITA TERKAIT