11 December 2019, 23:40 WIB

Tol Cisumdawu Terhambat Pembebasan Lahan


Bayu Anggoro | Nusantara

ANTARA
 ANTARA
Pembangunan tol Cisumdawu

PEMBANGUNAN Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang akan menjadi akses utama menuju Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, hingga kini belum selesai. Padahal operasional bandara itu sangat tergantung kepada Tol Cisumdawu.

“Semua permasalahan (pariwisata) di Bandung dan Bandara Kertajati kuncinya di Jalan Tol Cisumdawu,” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil seusai melantik 141 kepala desa hasil pemilihan serentak di Kabupaten Majalengka, Rabu (11/12).

Tol Cisumdawu dengan panjang 60,1 kilometer dan terdiri dari enam seksi, pembangunannya direncanakan sejak 2005 tetapi baru mulai dibangun pada 2012. Semula jalan bebas hambatan yang dibangun dengan biaya Rp8,7 triliun itu ditargetkan selesai dan bisa beroperasi pada 2015. Tetapi, hingga kini tidak kunjung selesai, bahkan pembebasan sebagian lahannya masih terkendala.

Pembebasan lahan seksi I saat ini baru 68,5%. Bahkan, seksi IV sampai VI belum banyak mencapai kemajuan, karena hingga September lalu lahan untuk seksi IV dan V belum ada yang dibebaskan. Padahal, jika Tol Cisumdawu beroperasi, waktu tempuh Bandung-Bandara Kertajati hanya 45 menit, atau jauh lebih cepat dari saat ini yang memakan waktu dua jam.

Gubernur mengungkapkan, kunjungan wisatawan ke Bandung berkurang seiring dialihkannya aktivitas penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati. Meski demikian ia memastikan pembangunan Tol Cisumdawu terus dilakukan dan diharapkan segera selesai. “Kita kerja keras. Jalan Tol Cisumdawu sedang dikerjakan, harus beres secepatnya,” ujar Emil.

Menurut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Eddy Nasution, pengalihan penerbangan ke Bandara Kertajati dilakukan karena kapasitas Bandara Husein Sastranegara sudah tidak memungkinkan, terutama untuk diterbangi pesawat berukuran besar.

Wali Kota Bandung Oded M Danial meminta pemindahan penerbangan dikaji ulang agar tidak mengganggu sektor pariwisata di wilayahnya. Ia menyebutkan, pada 2018 jumlah wisatawan yang masuk ke Bandung mencapai 7,5 juta. Tetapi, sejak penerbangan dipindahkan ke Bandara Kertajati, jumlahnya menurun.


Jalur Puncak II

Sementara itu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berharap jalur Puncak II yang menghubungkan Cianjur dengan Bogor bisa segera terealisasi. Pasalnya, sering terjadinya kemacetanan lalu lintas di jalur Puncak I berdampak negatif terhadap jumlah wisatawan dan tingkat hunian hotel di wilayah Cianjur.

Ketua PHRI Kabupaten Cianjur Nano Indrapraja mengatakan, kemacetan lalu lintas pada akhir pekan dan libur panjang tekadang membuat arus kendaraan dilakukan dengan cara buka-tutup. “Bagi kami, jawaban atas kemacetan itu adalah, jalur Puncak II harus segera direalisasikan. Lihat saja sekarang, ruas jalan di Puncak masih segitu-gitu saja, tapi jumlah kendaraan terus meningkat,” katanya.

Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pembangunan infrastruktur yang dibiayai oleh pemeringah pusat dikebut. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banyumas Irawadi mengatakan tahun ini ada anggaran Rp66,6 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp55,48 miliar di antaranya digunakan untuk preservasi dan rekonstruksi ruas jalan dan penanganan jembatan.

“Rekonstruksi ruas jalan panjangnya mencapai 68,03 kilometer, sedangkan penanganan jembatan mencapai 735,9 meter,” katanya. (LD/BB/DY/RF/N-1)

BERITA TERKAIT