11 December 2019, 09:40 WIB

Presiden Ultimatum Kapolri


Akmal Fauzi | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
 ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Penyidik KPK Novel Baswedan.

PRESIDEN Joko Widodo meminta Kapolri Jenderal Idham Azis tidak berlama-lama menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang terjadi pada April 2017. Kasus itu harus dituntaskan secepatnya.

"Saya tidak bicara masalah bulan. Kalau saya bilang secepatnya, berarti dalam waktu harian," kata Presiden Jokowi, di Jakarta, kemarin.

Perintah itu disampaikan setelah Jokowi menerima laporan Idham Azis di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/12). Kepolisian, kata Jokowi, telah mendapatkan temuan baru terkait kasus Novel. Namun, Jokowi enggan menjelaskan apa temuan baru yang didapat pihak kepolisian tersebut. "Tanya langsung Kapolri, yang jelas sudah disampaikan ke saya," ujarnya.

Presiden Jokowi sebelumnya memberi tenggat sampai awal Desember 2019 bagi Polri dalam mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel. Hal itu disampaikan Jokowi seusai melantik Idham Azis sebagai Kapolri di Istana Negara, Jakarta, Jumat (1/10).

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengaku lega polisi menemukan bukti baru kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Novel Baswedan. Polisi diminta segera mengumumkan temuan baru tersebut.

"Kalau sudah ada bukti baru dan akan diungkap, kami sangat senang di KPK. Kami sangat senang dan mendukung," kata Laode, di Gedung KPK, Jakarta, kemarin.

Ia berharap polisi segera menangkap pelaku sekaligus otak di balik teror keji itu. Hal tersebut untuk perlindungan pegawai KPK yang merupakan bagian penting dari proses pemberantasan korupsi di Tanah Air.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal yang mendampingi Kapolri menemui Presiden Jokowi, Senin (9/12) sore, mengungkapkan kepolisian telah menemukan titik terang kasus penyerangan Novel tanpa merinci lebih lanjut. (Mal/Medcom/P-2)       

BERITA TERKAIT