11 December 2019, 04:40 WIB

Atasi Defisit, Pertamina Didesak Kendalikan Impor


(Ant/E-3) | Ekonomi

Presiden Joko Widodo meminta Pertamina untuk menurunkan impor minyak dan gas (migas) dan mempercepat program campuran minyak nabati 30% ke bahan bakar minyak (BBM) jenis solar atau B30.

Kepala Negara mengingin-kan urusan yang berkaitan dengan defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan Indonesia bisa diturunkan jika impor migas bisa dikendalikan dengan baik dan lifting atau produksi migas dalam negeri bisa dinaikkan.

"Intinya mereka menyanggupi," kata Presiden Jokowi saat ditanya soal kedatangan Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) ke Istana Kepresidenan, Jakarta, bersama Direktur Utama PT Pertamina (persero) Nicke Widyawati pada Senin (9/12).

Selain itu, kata Jokowi, mereka membahas penggunaan biodiesel B30 yang dimulai pada Januari 2020 agar bisa dilaksanakan dan dikawal sehingga bisa menurunkan impor minyak.

"Juga pembangunan kilang minyak, harus. Sudah 34 tahun enggak bisa bangun, kebangetan. Saya suruh kawal betul dan ikuti terus progresnya," tegas Jokowi.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Dirut PT Pertamina Nicke Widyawati di lingkung-an Istana Kepresidenan, Senin (9/12), mengatakan dirinya dipanggil Presiden bersama BTP untuk membahas perkembangan industri energi dan petrokimia, salah satunya kesiapan biodiesel B30.

"Kita sampaikan di dalam mengenai kesiapan untuk penerapan B30. Jadi kita akan jalankan, semuanya sudah siap penerapan B30 di semua terminal BBM dan semua SPBU," kata Nicke.

Menurut Nicke, dia juga melaporkan tentang progres pembangunan kilang minyak dan sejumlah pabrik petrokimia. "Hal ketiga, kami menerapkan digitalisasi SPBU. Kami akan menerapkan program itu agar bisa memonitor penyaluran BBM subsidi," ujar Nicke.

Adapun Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, menyampaikan pesan Presiden Jokowi, yakni memperbaiki industri petrokimia untuk memproduksi komoditas petrokimia sebagai substitusi impor.

"Presiden ingin memperbaiki defisit neraca perdagangan kita. Kunci paling besar sektor petrokimia dan migas," jelas Ahok. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT