11 December 2019, 03:40 WIB

Perempuan Mesti Berani Bersuara


(Mts/H-3) | Humaniora

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat 

SAAT ini terjadi peningkatan kesadaran perempuan untuk berani melapor atas kekerasan yang dialami. Menurut Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat, sudah saatnya kaum hawa harus berani bersuara untuk menyadarkan publik mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan.

"Hal tersebut merupakan sinyal bagus mengingat perempuan sering tidak berdaya ketika menjadi korban kekerasan," jelas Mbak Rerie, panggilan akrab Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat, dalam bincang pers terkait dengan kampanye 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan di Gedung DPR, kemarin.

Ia menambahkan, di tengah budaya patriarki yang sangat kental di masyarakat, sering kali tidak ada dukungan keluarga dan perangkat sosial bagi korban kekerasan. Selain itu, payung hukum yang ada belum seutuhnya melindungi korban.

Mbak Rerie lebih jauh mengungkapkan, Komnas Perempuan menggelar kampanye 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan yang telah dimulai sejak 2003. Dalam kampanye itu, Komnas Perempuan menjadi inisiator dan fasilitator kampanye di wilayah yang menjadi mitra Komnas Perempuan.

"Salah satu agenda utama yang harus terus diperjuangkan ialah menggalang solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan pada perempuan merupakan pelanggaran HAM," jelas Mbak Rerie.

Mbak Rerie juga mendorong pengesahan UU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) untuk menjawab masalah kekerasan pada perempuan. "UU PKS sudah masuk Prolegnas sejak 2018. DPR harus bisa menyelesaikan dan segera mengesahkan sehingga ada kejelasan akan payung hukum," imbuhnya.(Mts/H-3)

BERITA TERKAIT