10 December 2019, 21:28 WIB

Agama Generasi Z


Lian Jemali -- Mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM | Opini

Dok Pribadi
 Dok Pribadi
Mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM Lian Jemali

ADA banyak penelitian tentang generasi Z sebagai generasi yang menjanjikan baik dari sisi sosial, politik, budaya, pendidikan, maupun ekonomi. Mereka diproyeksikan sebagai kekuatan terbesar bangsa di masa depan.

Di sisi lain, tak jarang banyak juga pesismisme yang muncul ketika melihat riskannya generasi ini terhadap bahaya radikalisme, konsumerisme, dan daya juang rendah.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan terhadap eksistensi generasi Z, ternyata tidak banyak juga penelitian yang berhubungan dengan eksistensi mereka dari sisi keagamaan.

Tim dari ICRS UGM yang dipimpin oleh Leonard Chrysostomos Epafras bersama Maksimilianus Jemali, Hendrikus Paulus Kaunang, dan Vania Sharleen, merespons fenomena ini dengan mengadakan penelitian tentang agama dari generasi Z.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi Z di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menghayati nilai-nilai keagamaan mereka dan sedikit berbeda dengan cara beragama dari generasi-generasi sebelumnya. Penelitian ini dilakukan pada 2019 dan melibatkan 846 mahasiswa Gen Z dari 30 perguruan tinggi di Indonesia.

Perbedaan cara menginternalisasi nilai-nilai keagamaan tidak terlepas dari pengaruh fasilitas digital yang memungkinkan semua orang mengakses apa saja dari sekian banyak tulisan dan praktik hidup sehari-hari.

Gen Z adalah generasi yang memiliki kedekatan yang krusial dengan dunia digital (Instagram, Twitter, Facebook, Whatsapp, Line, Tiktok, dan lainnya) sebagai ruang sosial yang mereka geluti.

Kita bisa menemukan jutaan generasi Z yang sangat aktif dalam media-media tersebut. Kedekatan krusial ini memengaruhi cara pandang mereka terhadap sesuatu termasuk cara beragama.

Media digital bisa saja menjadi ruang untuk mengakses berbagai informasi aktual tetapi juga memberi kesempatan kepada mereka untuk mengekspos sekaligus mengeksplorasi pengalaman-pengalaman keagamaan personal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ada perluasan terhadap konsep ruang publik. Ruang publik tidak hanya berkutat pada bertatap mukanya orang-orang tertentu di salah satu  tempat tetapi lebih dari itu ada perluasan relasi dan komunikasi yang bersifat global. Ruang publik yang mengedepankan optimalisasi akses-akses digital telah memberi pemahahan baru terhadap relasi dan komunikasi yang terjadi di antara banyak orang yang berada di tempat yang berbeda.

Ekspresi pengalaman  personal dengan penggunaan bahasa-bahasa religius  ditampilkan secara fleksibel dan disesuaikan dengan kreativitas mereka. Fenomena ini meretas ketertutupan aktivitas-aktivitas religius yang hanya terjadi dalam ruang-ruang tertentu.

Justru generasi Z membuka ketertutupan ini dengan menciptakan ruang publik yang lebih luas. Mereka menciptakan perjumpaan, diskusi, dan sharing pengalaman religius sehari-hari melalui media-media digital.

Media-media digital memproduksi diri sosial yang dinamis yang termanifestasi dalam retorika yang saling memengaruhi tentang diri yang independen, pencitraan diri, dan juga pencitraan religiusitas.

Perjumpaan melalui media digital sebagai ruang publik yang lebih luas telah cenderung menjadikan mereka menghayati nilai-nilai keagamaaan sebagai sesuatu yang sifatnya transisional, ada perspektif, atmosfer, kondisi, dan cara-cara baru.

Namun, tidak bisa dipungkiri dalam konteks media digital, generasi Z memiliki rujukan kepada generasi milenial. Generasi Z memiliki figur-figur publik tertentu dari generasi milenial yang selalu dijadikan jembatan alam pikir dan model dalam hal referensi religius. Mereka menjadi bagian dari jutaan followers akun-akun bernuansa agamais dari generasi milenial.

Hal ini berkesinambungan dengan penilaian kaum milenial bahwa generasi Z adalah generasi yang selalu menjadi target-target pasar. Oleh karena itu, kaum milenial biasanya muncul sebagai admin dan buzzer yang bisa mengarahkan identitas kegamaaan generasi Z.  

Sebagai generasi netizen yang baru, generasi Z selalu divonis berdasarkan diferensiasi yang mereka miliki dalam melawan generasi sebelumnya. Entah soal perasaan, orientasi, kapasitas, proyeksi, maupun preferensi sosial-religius.

Mereka tidak segan-segan untuk mengambil posisi antagonis. Mereka berani mempertanyakan bahkan mengkritisi berbagai kebijakan pimpinan agama dan politik yang terlalu dianggap menjaga kemapanan-kemapanan yang sebenarnya bisa ditransformasi oleh sistem-sistem baru.

Penelitian menemukan bahwa aspirasi politik generasi Z sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Aksi para mahasiswa dan siswa SMK pada Oktober lalu merupakan salah satu contoh bagaimana keberanian mereka untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Media sosial (medsos), dalam salah satu programnya, membedah secara khusus tentang keterlibatan generasi Z dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia melalui sebuah talkshow yang berjudul 'Gebrakan Generasi Z: Wajah Baru Demokrasi?'.

Kendatipun demikian, sebagian generasi Z juga cenderung bersikap apolitis terhadap ingar bingar konstelasi politik nasional. Namun, karena kebisingan konstelasi politik, terutama pemilihan umum, Generasi Z akhirnya terlibat juga dalam politik. Partisipasi itu distimulasi oleh referensi yang berbeda, sebagian besar melalui kanal-kanal medsos.  

Generasi Z merupakan generasi yang lebih berbasis visual. Hal ini tercermin pada banyaknya penggunaan kanal medsos seperti Youtube, instagram, TikTok. Kanal Ini juga menjadi ruang keterlibatan secara agamais dari Gen Z.

Salah satu fitur penting yang dikreasikan melalui medsos (seperti TikTok) adalah kekuatan replikasi dimana G en Z bisa memasukkan subjektivitas digital mereka ke dalamnya dan menjadi bagian dari budaya viralitas.

Mereka tidak hanya meneruskan sebuah pesan dari salah satu akun atau medsos tetapi berusaha juga menampilkan subjektivtas dirinya. Pesan religiusnya bisa saja sama tetapi cara mengungkapkannya berbeda.

Jadi, ada penyeragaman dalam pesan tetapi ada perbedaan dalam subjektivitas. Contohnya adalah sebuah video yang diambil dari TikTok, didistribusikan di Youtube, lalu dikreasikan lagi dalam versi berbeda oleh orang berbeda. Umumnya oleh kaum muda yang juga muncul dalam meme-meme dan poster-poster.

Dalam kasus Gen Z, mungkin distribusi digital seperti ini memberi kita petunjuk lebih banyak. Ini merupakan ekspresi diri sosial di mana pesan-pesan agamais tidak hanya dimobilisasi atau disebarkan melalui medsos seturut budaya generasi muda tetapi tampilan medsos juga memungkinkan pengguna untuk turut berpartisipasi dalam agenda keagamaan yang lebih besar. Mereka ikut mengambil bagian dalam pewartaan dan perjuangan dari agama tertentu.

Dinamika religiusitas yang terjadi membawa kita pada pemahaman bahwa ruang sosial sangat penting bagi Generasi Z, entahkah dalam keluarga, medsos, sekolah, kampus, maupun relasi dalam lingkungan keagamaan. Pada usia ini mereka sedang bereksperimen dengan banyak hal, termasuk soal keagmaan.

Di satu sisi mereka masih dipengaruhi oleh sumber-sumber keagamaan tradisional tetapi di sisi lain juga mereka belajar menemukan posisi keagamaan yang sebenarnya.

BERITA TERKAIT