10 December 2019, 19:19 WIB

Sutrisno Jambul Menutup Triloginya dengan Abstrak


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/Galih Agus Saputra
 MI/Galih Agus Saputra
Pameran Abstrak

Usai menggelar pameran bertajuk 'Perempuan' pada 2017 dan 'Lelaki' pada 2018, Seniman Foto, Sutrisno Jambul kini kembali menyuguhkan karyanya melalui pameran bertajuk 'Abstrak' yang berlangsung sejak 29 November hingga 19 Desember mendatang. Dengan adanya pameran yang berlangsung di Institut Francais d'Indonesie (IFI), Jalan Wijaya, Petogogan, Jakarta itu, kini seakan lengkap sudah trilogi pameran karya visual seorang Jambul yang sebagaimana diketahui telah berlangsung dalam tiga tahun belakangan.

Menurut Sang Kurator Pameran, Firman Ichsan karya Jambul ini sebenarnya tidaklah berangkat dari seni murni (fine art). Kerja fotografinya lebih kepada dokumenter dan jurnalistik, dimana ia sendiri lahir di Jakarta pada 1978, belajar jurnalistik dasar pada 2002, lalu menempuh pendidikan kelas jurnalistik di Galeri Foto Jurnalistik Antara, pada 2004.

Pada 2006 pun, kata Firman, Jambul juga masih mengejar pendidikan kelas pagi di Anton Ismael dan dari situ pula lah ia kemudian bersentuhan dengan pendekatan fotografi alternatif. Ia selalalu konsisten dengan apa yang dikenal sebelumnya yaitu fotografi jurnalistik dan dokumenter, bahkan hingga di 2006, atau di saat menjadi kontributor foto di Jakarta Magazine, lalu di tahun 2008 - 2009 sebagai fotografer di Harian Merdeka dan kemudian menjadi kontributor aktif untuk Demotix/CorbisNews, Pacific Press dan lain-lain.

"Dalam perjalanan foto jurnalistik yang realis itu kemungkinan dirasakan oleh Jambul memiliki keterbatasan. Bukan saja sebagai karya, tetapi juga dalam sajiannya sangat berhubungan dengan teks dan informasi yang lugas. Maka dari itu pula, agaknya Jambul menginginkan sesuatu yang lain untuk lebih jauh mengeksplorasi fotografi," tutur Firman, dalam keterangan tertulisnya.

Seakan mengiyakan pernyataan Firman, Jambul sendiri lantas menjelaskan bahwa dewasa ini ia selalu membuat model penyimpanannya sendiri untuk foto-foto yang diperoleh selama terjun ke lapangan. Hal itu bahkan sudah berlangsung sejak beberapa tahun silam, dimana ia biasa membuat dua folder, dan dari kedua folder itu, ia lantas mengategorikannya sebagai foto sebagai karya seni, dan foto sebagai kebutuhan redaksi.

"Mungkin kalau secara seni saya seperti anak kelas empat atau lima SD, bermain dengan awut-awutan. Ya namanya suka atau tidak suka itu urusan penontonnya, tetapi yang pasti saya punya dunia sendiri, karena dalam statement, saya tidak bisa egois dalam bersikap. Dengan berkaryalah kemudian saya bisa melakukan keegoisan itu" tutur Jambul, saat bincang pameran 'Abstrak' di IFI Wijaya, Petogogan, Jakarta, Selasa (10/12).

Meskipun kadang terdengar asing, menurut Firman, sesungguhnya pendekatan abstrak didasari pada perkembangan lensa yang memiliki sejarah relatif panjang. Saat dunia seni, khususnya seni rupa diperkenalkan pada fotografi di abad 18, babak baru tampaknya telah dimulai. Alvin Langdon (1882-1966) ialah salah satu sosok yang mengawali pendekatan abstrak tersebut, yang bekerja dalam batasan teknik fotografi pada zamannya.

Babak baru juga ditandai dengan kemunculan lensa mikro yang sebenarnya juga untuk keperluan ilmiah dan medis. Ketika lensa mampu merekam kulit, pori, dan kerut, para fotografer (perupa) yang merekam alam saat itu pada kesempatan selanjutnya juga turut menyoroti fragment dan detail, atau sebagaimana dikatakan Firman, dapat dilhat pula dalam karya-karya Aaron Sisikin (1903-1991).

"Sebenarnya apa yang dilakukan Jambul masuk dalam pendekatan ini. Ia berusaha menemukan atau mengajak kita untuk melihat lebih jauh tentang gambar yang spesifik saat seorang mampu melihat dengan detil. Menarik bahwa saat bekerja Jambul melakukan pendekatan teknis yang khas fotografi. Potret dari detil sobekan poster, reruntuhan, atau bayang benda difoto untuk diberi makna dan arti yang beda," imbuh Firman. (M-4)

BERITA TERKAIT