10 December 2019, 17:05 WIB

Sistem Mengajar untuk Generasi Z di Sekolah Perlu Diubah


mediaindonesia.com | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
 GSM mengubah peran seorang pengajar dari yang biasanya sebagai pendikte, berubah menjadi fasilitator.

GENERASI  Z adalah generasi yang lahir di zaman teknologi dan informasi. Pada umumnya anak-anak Gen Z ini dilahirkan pada tahun 1995 ke atas.

“Generasi Z adalah generasi yang berlimpah secara informasi dan harusnya lebih berwawasan dan memiliki kelimpahan data karena mencarinya mudah,” kata ujar Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Jakarta,Selasa (9/12).

Menurut Nur Rizal, Gen Z ini terlahir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang demikian pesat. “Oleh karena itu, cara ajar untuk mendidik anak-anak ini pun harus dibedakan dari sistem yang terdahulu,” jelasnya.

“Jika generasi sebelumnya cocok dididik dengan pola otoriter, generasi Z ini justru sebaliknya. Mereka dibesarkan dengan pola-pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi ini cenderung  lebih suka kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan, rasional,” papar Nur Rizal.

Nur Rizal memaparkan bahwa terjadi perubahan pola perilaku, generasi memiliki pandangan kritis, kreatif, terbuka, mandiri,  dan suka tantangan menjadi beberapa hal penting yang kerap menjadi batu sandungan bagi para pengajar yang masih bersikap kolot.

“Sudah bukan zamannya lagi seorang guru ‘menyuapi’ seluruh materi yang ada di buku, tanpa siswa perlu tahu apa manfaatnya untuk mereka,” tutur Nur Rizal.

Karena, Nur Rizal menegaskan bahwa genereasi Z tidak perlu lagi disuapi dengan pelajaran teoritis. Pasalnya mereka sudah pandai membaca melalui media dan mempunyai wawasan yang luas.

Sebagai generasi multimedia, kata Nur Rizal, mereka lebih suka diberikan kesempatan kolaborasi, berbicara, bertindak, dan terlibat. Peran multimedia, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri memungkinkan generasi ini untuk mengkritisi pengajar.

“Karena terbiasa kemudahan teknologi ini juga yang menyebabkan Gen Z cenderung tidak fokus, ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan mudah bosan. Hal ini juga menjadi tantangan bagi pengajar. Masa-masa yang produktif bisa menjadi solusi bagi anak-anak jenis ini,” jelasnya.

Nur Rizal mengatakan bahwa sistem pendidikan harus melibatkan siswa dalam sebuah tugas atau proyek sekolah secara langsung bisa jadi cara untuk melatih ketelatenan kaum muda.

“Berbagai proses yang mereka jalani menjadikan generasi ini juga sadar kalau tidak ada sesuatu yang instan dan tidak semuanya harus bergantung pada teknologi,” tegasnya.

“Kuncinya adalah pahami, kenali, dan sabar. Pengajar harus sabar dan pandai berinteraksi dengan anak-anak generasi Z. Karena selain pandai, generasi ini juga cenderung kritis dan realistis,” tutur Nur Rizal.

Di sinilah kemudian tugas para pengajar harus mulai diubah. Nur Ruzal mengarakan dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), transformasi pola pendidikan formal akan menjadi lebih kolaboratif, inklusif, dan menarik guna mendorong kemampuan diri siswa.

“Pendidikan selalu menjadi sendi krusial dalam kebangkitan atau kemajuan sebuah bangsa. Jika semangat yang dibangun di pendidikan adalah kompetisi berorientasi nilai, bangsa ini akan terjebak dalam kultur saling mengalahkan,” katanya.

“Padahal, untuk menghadapi tantangan masa depan yang kian rumit, kita harus bekerja sama, berkolaborasi,” ujar Nur Rizal.

“Kultur kolaborasi ini bisa ditanamkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yakni dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik,” jelasnya.

Nur Rizal mengingatkan bahwa penyediaan ruang semacam tersebut memungkinkan anak untuk tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial. Ketimbang mementingkan ego, generasi muda akan terbiasa untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah bersama. Keterampilan semacam inilah yang dibutuhkan generasi muda,” tandasnya.

GSM, papar Nur Rizal, merumuskan konsep sekolah masa depan yakni sekolah menyenangkan yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak. GSM mengubah peran seorang pengajar dari yang biasanya sebagai pendikte, berubah menjadi fasilitator.

Berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), sekitar 88% siswa di Indonesia setuju atau sangat setuju jika guru mereka menunjukkan kegembiraan dalam mengajar. 

Di sebagian besar negara, siswa sekolah mendapat nilai lebih tinggi ketika mereka memiliki guru yang antusias dan pro aktif. Pola pengajaran oleh guru yang mengajak siswa berinteraksi dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

“Suasana belajar yang menyenangkan inilah yang pada akhirnya cocok dengan generasi Z yang aktif dan kritis. Diharapkan dengan pola pembelajaran yang menyenangkan, generasi Z dapat semakin bergairah saat belajar dan menghasilkan ide-ide yang baru,” tuturnya. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT