10 December 2019, 16:30 WIB

LIPI: Ekonomi Afrika Sudah Berubah


Hilda Julaika | Ekonomi

ANTARA FOTO/Novrian Arbi
 ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Ilustrasi produksi kopi dari petani Jawa Barat terus digenjot untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Afrika dan Timur Tengah

PENELITI LIPI Muzzar Kresna mengatakan selama ini para pengusaha Indonesia masih keliru melihat negara-negara di Benua Afrika. Benua Hitam ini masih diidentikkan dengan hal-hal berbau negatif. Seperti, kelaparan dan peperangan.

Padahal, menurutnya, Afrika sudah berubah. Adanya infrastruktur lembaga diplomasi ekonomi seperti KBRI, ITPC dan lembaga studi Afrika harus bisa mematahkan persepsi tersebut.

"Selama ini yang masih identik dengan Afrika adalah perspektif negatif seperti kelaparan dan peperangan. Padahal sudah totally berubah. Dari 54 negara di sana mungkin masih ada yang seperti itu, tapi tidak semuanya," kata Kresna, Selasa (10/12).

Pengusaha Indonesia pun masih kebingungan saat hendak melakukan ekspor atau investasi ke Afrika. Terutama informasi terkait kondisi keamanan dan regulasi investasi di sana. Kekhawatiran pun timbul mengenai produktivitas masyarakat di sana.

Hasil penelitian LIPI menyebut Afrika merupakan pasar potensial bagi ekspor Indonesia. Kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dalam pasar yang protektif, berpenduduk besar dan berusia muda serta memiliki hubungan sejarah panjang dengan Indonesia.

Baca juga: LIPI Usul Indonesia Buka Kedutaan Baru di Afrika

Sebut saja perekonomian negara Ethiopia, Kenya dan Tanzania yang telah bangkit. Kondisi ekonomi makro ketiga negara tersebut terus menunjukkan tren kinerja yang positif dengan kisaran rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 5-6% selama 2011-2018.

International Monetary Fund (IMF) pun mencatat Ethiopia sebagai salah satu dari lima negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia pada 2013-2014 sebesar 10,3%.

Namun, Koordinator Kelompok Peneliti Eropa dan Afrika dari LIPI Ahmad Helmy Fuady mengakui untuk melakukan eskpor ke Afrika masih berat. Hal ini disebabkan pajak impor yang tinggi dari Afrika. Rata-rata tarif impor Afrika untuk produk Indonesia mencapai 15%.

Sehingga pengusaha Indonesia masih berpikir melakukan ekspor ke negara-negara di Afrika berisiko tinggi. Untuk itu, peran lembaga diplomasi adalah menjalankan peran diplomasi pajak salah satunya.

"Peningkatan ekspor ke pasar Afrika memang bukan hal yang mudah. Namun, jika pemerintah mampu menginisiasi kerja sama untuk menurunkan besaran tarif impor hingga 0% maka dapat meningkatkan pertumbuhan nilai ekspor Indonesia ke Afrika sebesar 13,64%," ujar Helmy.(OL-5)

BERITA TERKAIT