10 December 2019, 15:15 WIB

Kritik Seniman Muda Atas Fenomena Kaburnya Ruang Privat


Bagus Pradana | Weekend

SEJUMLAH 'cantrik' (siswa) dari Padepokan Seni Bagong Kussudihardja mempersembahkan sajian musik teatrikal garapan terbarunya dengan tajuk "Hajat Dalam Selimut". Karya ini merupakan hasil eksplorasi seni sepuluh seniman muda dari berbagai daerah di Indonesia, yang telah rampung mengikuti program beasiswa residensi 'Seniman Pascaterampil' (SPt) selama 38 minggu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).

Bertempat di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu (7/12), gelaran "Hajat Dalam Selimut" ini mendapat sambutan yang cukup meriah. Penampilan kali ini merupakan versi lebih lengkap dari penampilan sebelumnya di Yogyakarta.

Para cantrik program residensi SPt PSBK ini ditantang untuk mengartikulasikan fenomena kaburnya ruang privat dan ruang publik di masyarakat ke dalam bahasa seni. Fenomena ini sering kali memicu munculnya sikap kompromis dari seseorang, hingga mengakibatkan penyalahgunaan wewenang, konflik, bahkan perlawanan sosial. Setelah mendedah kekaburan ruang tersebut, akhirnya mereka berhasil melahirkan elaborasi bebunyian dengan gerak tubuh, yang kemudian menginspirasi judul pementasan itu.

Uniknya, para cantrik mengambil akar inspirasi dari cerita rakyat "Kancil Mencuri Timun". "Jadi strukturnya kami masih meminjam itu sehingga dalam pembagian per fragmennya masih ada kaitan dalam cerita kancil itu. Kalau pesan moral dari "Hajat Dalam Selimut" sendiri kami ingin menyampaikan sebuah gambaran tentang kelonggaran yang terdapat dalam masyarakat kita, tentang bagaimana sikap individu menyikapi keadaan kelonggaran tersebut? Jadi banyak interpretasinya, kami menggambarkan motif dari orang-orang yang memanfaatkan kelonggaran itu," terang Kurniaji Satoto, salah satu cantrik program SPt PSBK asal Kendal.

Ia melanjutkan jika pada bagian awal, mereka memperlihatkan terjemahan kelonggaran pemahaman ruang privat. "Lalu selanjutnya tentang respon individu terhadap kelonggaran itu bagaimana, kemudian kami ulas mengenai proses terjadinya pelanggaran, dan terakhir adalah tentang konsekuensi apa yang harus diterima pelanggar," tambah Kurniaji.

Ditemui dalam pagelaran tersebut, Direktur Eksekutif Yayasan Bagong Kussudiardja, Jeannie Parkmengaku bangga menyaksikan cantrik-cantrik dari PSBK yang berhasil melanjutkan amanah dari mendiang Bagong Kusuddiardja. Maestro tari dan koreografer itu memiliki prinsip untuk menyuguhkan kreasi seni yang tetap memiliki ketersambungan dengan realitas sosial yang ada di sekitar kita.

"41 tahun lalu, maestro seni Bagong Kussudihardja menggagas PSBK sebagai ruang belajar kesenian non formal berwujud padepokan seni. Bagong mendorong cantrik-mentrik dalam mengolah rasa agar mampu mengabdikan dirinya kepada masyarakat," terang Jeannie Park.

Sepuluh seniman peserta program residensi 'Seniman Pascaterampil' (SPt) angkatan 2019 yang turut berkolaborasi dalam gelaran musik teatrikal "Hajat Dalam Selimut" ini diantaranya adalah Asmiati Sihite dari Surabaya, Azwar Ahmad dari Karawang, Brian Farid Abdillah Arif dari Kudus, Candrani Yuis Rohmatulloh dari Pasuruan, Chrisna Banyu dari Grobogan, Kurniaji Satoto dari Kendal, Miftahuddin Palannari dari Makasar, Muhrizal Gholy dari Gresik, Riyanti Wisnu dari Bandung, dan Theodora Melsasall dari Ambon. (M-1)

BERITA TERKAIT