10 December 2019, 09:49 WIB

Putin dan Zelensky Bertemu Bahas Konflik Ukraina Timur


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP/LUDOVIC MARIN
 AFP/LUDOVIC MARIN
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kiri) dalam konferensi pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan).

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukrania Volodymyr Zelensky melangsungkan pembicaraan tatap muka pertama di Paris, Prancis, Senin (9/12).

Pertemuan yang bertujuan mencari penyelesaian atas konflik di Ukraina timur tersebut dimediasi Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Kanselir Jerman Angela Merkel.

Pertemuan yang berlangsung di Istana Elysee tersebut menghasilkan kesepakatan terkait sejumlah langkah untuk mengakhiri konflik antara separatis pro-Moskow dan pasukan Ukraina di timur Ukraina.

Dalam pernyataan bersama yang dihasilkan seusai pertemuan, Ukraina dan Rusia sepakat menerapkan gencatan senjata.

“Pihak-pihak berkomitmen mengimplementasi gencatan senjata yang penuh dan komprehensif diperkuat implementasi semua langkah dukungan gencatan senjata yang diperlukan, sebelum akhir 2019,” terang kedua pemimpin negara dalam pernyataan bersama.

Baca juga: Pemakzulan Trump Masuki Minggu Krusial

Kedua belah pihak juga berjanji melanjutkan penarikan pasukan militer dari tiga wilayah garda depan konflik pada Maret 2020 mendatang. Selain itu, Rusia dan Ukraina sepakat membebaskan dan menukar semua tahanan terkait konflik di Ukraina timur pada akhir tahun ini.

Putin memuji hasil pertemuan sebagai langkah penting menuju deeskalasi di Ukraina timur. Namun, Zelensky dengan jujur mengakui, terlepas dari simbolisme yang mengesankan atas pertemuan pertamanya dengan Putin, ia menginginkan lebih banyak kesepakatan yang dapat dicapai

"Banyak pertanyaan yang ditangani dan rekan-rekan saya mengatakan itu adalah hasil yang sangat baik untuk pertemuan pertama. Namun, saya akan jujur - itu sangatlah sedikit, saya menginginkan penyelesaian sejumlah besar masalah," ujar Zelensky seusai pertemuan.

Meski pertemuan itu berhasil menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk mengurangi konflik Ukraina, agaknya itu belum berhasil membawa terobosan besar guna mengakhiri perang lima tahun antara Ukraina dan Rusia.

Macron pun menyebut pertemuan puncak baru akan diadakan dalam empat bulan ke depan untuk meninjau kemajuan gencatan senjata dalam mengakhiri konflik.

"Fakta bahwa kami berada di sini bersama berdampingan adalah sesuatu yang penting," ujar Macron yang menggambarkan konflik Ukraina timur sebagai luka menganga di jantung benua Eropa.

"Kami memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun saya memiliki kesan bahwa ada niat baik untuk menyelesaikan masalah sulit," timpal Merkel.

Pertemuan yang berlangsung selama delapan jam tersebut berusaha membawa perjanjian yang ditandatangani Ukraina dan Rusia di Minsk, 2015 lalu, kembali ke jalurnya.

Pertemuan kepala negara Rusia, Ukraina, Prancis, Jerman yang disebut Format Normandia tersebut menyerukan penarikan senjata berat, pemulihan kontrol Ukraina atas perbatasannya, otonomi yang lebih luas untuk Donetsk dan Lugansk, serta penyelenggaraan pemilihan lokal.

Sebelumnya, pemerintah Rusia telah mengirim sinyal siap bekerja sama dengan pemerintah Ukraina. Namun tidak ada tanda-tanda kehangatan antara kedua kepala negara tersebut saat konferensi pers digelar pada Senin (9/12) malam. Putin dan Zelensky, masing-masing memilih duduk di ujung meja dengan ditengahi Merkel dan Macron.

Pertempuran yang berlangsung sejak 2014 lalu antara pasukan pemerintah Ukraina dan milisi pro-Rusia di Ukraina timur yang melancarkan upaya kemerdekaan, telah menyebabkan 13 ribu orang tewas dan 1 juta orang lainnya kehilangan tempat tinggal.

Kelompok separatis tersebut menguasai wilayah Donetsk dan Lugansk tidak lama setelah Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina pada 2014 lalu. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT