10 December 2019, 12:30 WIB

Trans-Jakarta Setor Deviden Rp40 Milliar ke Pemprov DKI


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

MI/ANDRI WIDIYANTO
 MI/ANDRI WIDIYANTO
Bus Trans-Jakarta di pemberhentian terakhir di Halte Ragunan, Jakarta Selatan.

PT Transportasi Jakarta (Trans-Jakarta) mengesahkan pembagian deviden perusahaan kepada pemegang saham sebesar 10% dari laba bersih atau sebesar Rp40 miliar.

Pengesahan itu dilangsungkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Trans-Jakarta tahun buku 2018 yang dilakukan pada Senin (9/12).

Direktur Utama PT Trans-Jakarta Agung Wicaksono menyampaikan, pendapatan laba bersih 2018 dengan nilai Rp403 miliar ini meningkat sebesar 54% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp262,9 miliar.

Angka itu juga dibarengi peningkatan pelanggan sebesar 30% dari 144,8 juta pada 2017 menjadi 189 juta pada 2018.

Agung mengatakan, adanya peningkatan dari berbagai indikator ini tidak lepas dari dorongan dan dukungan Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta.

Baca juga: Kajian Teknis dan Ekonomis Proyek LRT Minim

“Provinsi DKI memiliki komitmen yang kuat untuk memberikan layanan transportasi publik DKI dengan kenyamanan dan aksesibilitas yang baik sesuai dengan standar internasional,” ujar Agung di Jakarta, Selasa (10/12) dalam keterangan resminya.

Agung menambahkan, peningkatan itu kembali dibuktikan dengan memastikan memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggan.

Dalam hal ini, kata Agung, Trans-Jakarta terus melakukan penambahan dan peremajaan berbagai armada agar siap melayani warga DKI setiap harinya.

“Jumlah armada kami pada 2018 yang berjumlah 2.004 meningkat 32% dari tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 1.520 armada. Adapun peningkatan komposisi armada 2018 adalah 530 bus kecil, 724 bus sedang, dan 750 bus besar,” papar Agung.

Selain itu, lanjut Agung, peningkatan jumlah rute yang ditugaskan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta ikut memberi andil dalam memberikan kontribusi kepada pendapatan perseroan.

Hingga 2018, tercatat ada sebanyak 156 rute melayani pelanggan setiap harinya. Angka itu meningkat sebesar 28% dari 122 rute pada 2017.

Agung yang juga mantan Direktur Bidang Operasional PT MRT Jakarta itu menyebut adanya peningkatan rute ini juga ikut berdampak pada pelanggan secara signifikan.

Untuk 2018, tercatat pelanggan Trans-Jakarta ada sebanyak 189 juta pelanggan dibanding 2017 yang sebesar 144,8 juta pelanggan.

“Maka, kami mengalami kenaikan sebesar 30%. Angka ini dengan total capaian rata rata pelanggan harian dari 396,9 ribu orang pada 2018 menjadi 517,8 ribu pada 2019,” terang Agung.

Trans-Jakarta menegaskan akan terus berkomitmen terus mendukung pemerintah provinsi DKI dalam memberikan pelayanan transportasi bagi warga DKI dengan standar minimum yang baik.

Untuk ini, langkah awal yang akan dilakukan ialah memastikan kesehatan Perseroan untuk dapat memberikan dukungan maksimal kepada Pemrov DKI.

Untuk 2018, PT Transjakarta mendapatkan peningkatan peringkat indikator kesehatan perseroan dari 'A' pada 2017 menjadi 'AA' pada 2018.

Pemeringkatan itu disematkan langsung oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Dengan diagnosa kesehatan itu, perseroan mampu melakukan berbagai aksi untuk memastikan pemenuhan pelayanan transportasi bagi warga melalui peremajaan kendaraan, perbaikan, halte dan pembukaan rute baru," kata Agung.

Dalam RUPS juga disampaikan bahwa pemegang saham secara utuh dan bulat menyetujui penyertaan modal berupa asset (inbreng). Aset tersebut berbentuk tanah depo di Pinang Ranti, depo di Cawang, dan depo di Pesing dengan jumlah total penyertaan setara dengan Rp 1,191 triliun.

“Penyertaan ini selain memenuhi pencatatan pada jumlah setoran ekuitas, juga membantu TransJakarta untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan asset-asset ke depannya,” tutup Agung. (OL-2)

BERITA TERKAIT