10 December 2019, 11:30 WIB

Rusia Dilarang Tampil di Olimpiade dan Piala Dunia, Putin Marah


Basuki Eka Purnama | Olahraga

AFP/LUDOVIC MARIN
 AFP/LUDOVIC MARIN
Presiden Rusia Vladimir Putin

BADAN Antidoping Dunia (WADA), Senin (9/12), menjatuhkan skorsing selama empat tahun kepada Rusia yang membuat negara itu tidak bisa tampil di perhelatan besar dunia seperti Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022 karena dianggap memanipulasi data doping. Keputusan itu memancing kemarahan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Eksekutif Komite WADA yang bertemu di Lausanne menjatuhkan vonis itu setelah menuding Moskow dengan sengaja memalsukan data dari laboratorium pengujian doping mereka yang diserahkan kepada penyelidik pada awal tahun ini.

Sanksi paling berat dijatuhkan kepada pejabat negara Rusia yang dilarang hadir semua perhelatan negara. Adapun Rusia kehilangan hak mereka untuk menggelar kejuaraan olahraga apa pun.

"Sudah terlalu lama otoritas doping Rusia tidak menggelar olahraga secara bersih," ujar Presiden WADA Craig Reedie.

Baca juga: Rusia Dihukum 4 Tahun atas Penggunaan Doping

"Rusia telah membuang setiap kesempatan untuk membersihkan diri dan bergabung dengan komunitas antidoping global demi kebaikan atlet mereka dan integritas olahraga. Mereka malah memilih melanjutkan penipuan dan penyangkalan mereka," imbuhnya.

Meski begitu, atlet Rusia tetap bisa berlaga di Olimpiade tahun depan dan Olimpiade musim dingin 2020 namun sebagai atlet netral dan jika berhasil menunjukkan tidak terlibat dalam sistem doping yang dilakukan pemerintah Rusia.

Rusia juga masih diizinkan ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia 2020. Namun, jika lolos, tim yang berlaga di Qatar tidak bisa mewakili negara Rusia.

Partisipasi Rusia di Piala Eropa 2020 dan hak Kota Saint Petersburg menggelar empat laga tidak terpengaruh skorsing itu karena Piala Eropa tidak masuk hitungan event besar dalam kalender antidoping.

Berbicara di Paris, Putin mengecam skorsing itu yang disebutnya bermotif politik dan melanggar Pakta Olimpiade.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev juga menuding skorsing itu bermotif politik.

"Ini merupakan lanjutan dari histeria anti-Rusia yang telah menjadi kronis," tegasnya. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT