10 December 2019, 08:00 WIB

Bank Wakaf Mikro Melatih dan Memberdayakan UMKM


mediaindonesia.com | Ekonomi

Istimewa/OJK
 Istimewa/OJK
Masyarakat pedesaan atau warga kurang mampu dapat menjalankan usaha produktif melalui Bank Wakaf Mikro (BWM).

FOTO: Sejumlah ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Usaha Masyarakat di Sekitar Pesantren Indonesia (KUMPI) Nur Illahi, membayar cicilan pinjaman modal usaha, saat mengikuti kegiatan halakah mingguan yang digelar Bank Wakaf Mikro (BWM) PPM Al-Kautsar, di Tanjung Pati, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

PERMODALAN masih menjadi salah satu persoalan mendasar bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di pedesaan dan pelosok Nusantara. Masyarakat pedesaan biasanya belum bisa mengakses perbankan karena memerlukan sejumlah persyaratan formal.

Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya meningkatkan inklusi keuangan masyarakat pedesaan atau warga kurang mampu yang menjalankan usaha produktif melalui Bank Wakaf Mikro (BWM). Sebagai tahap awal, BWM memilih pesantren sebagai basis pengembangan. Nantinya, BWM bisa juga didirikan di luar lingkungan pesantren.

Pesantren jumlahnya begitu besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Jika dari 28.194 pesantren di Indonesia mampu membangun komunitas bisnis dan ekosistem usaha bagi santri dan masyarakat di lingkungan pesantren, secara signifikan akan membantu mengentaskan rakyat dari kemiskinan.

Operasional BWM seluruhnya bergantung pada donasi yang berasal dari perorangan maupun perusahaan. Siapa pun yang peduli akan pemberdayaan masyarakat bisa menjadi donatur. Dengan berdonasi sebesar Rp1 juta, masyarakat sudah bisa membantu membiayai usaha 1 UMKM selama setahun. Ke depan, juga akan dibuka donasi secara ritel.

Donasi tersebut disampaikan kepada Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang kemudian dipakai untuk mendirikan BWM. Sebagai contoh, donasi Rp4 miliar diserahkan kepada pesantren. Sebesar Rp 2 miliar–Rp 3 miliar akan disimpan dan dikelola oleh LAZ untuk menopang biaya operasional BWM. Sisanya untuk pinjaman usaha bagi warga di sekitar pesantren.

Bagi masyarakat yang ingin menjadi donatur BWM, caranya sangat mudah. Kini telah tersedia aplikasi BWM Mobile yang dapat diunduh di ponsel. Aplikasi ini berisi panduan berdonasi, informasi perkembangan BWM, dan produk unggulan nasabah BWM. Calon donatur juga bisa menghubungi LAZ yang bermitra dengan BWM, yang saat ini adalah LAZ BSM Umat.

BWM memiliki karakteristik, yakni tidak menghimpun dana dari pihak ketiga, bebas bunga atau imbal hasil, biaya administrasi hanya setara 3% setahun, tanpa agunan, berkelompok, dan melaksanakan pendampingan. Di dalam BWM terdapat dewan pengawas syariah, pengurus, dan pengelola yang terlatih.

                

Sejak diresmikan pada Oktober 2017 oleh Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, BWM telah berkembang cukup pesat. Hingga Oktober 2019, telah berdiri 54 BWM yang tersebar di seluruh Indonesia. Pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp31,5 miliar untuk 24.021 nasabah UMKM.

 

Bagi UMKM, manfaat BWM sangat terasa. Ibu Wasrihatun, pembatik dan nasabah BWM Almuna Berkah Mandiri, Krapyak, Yogyakarta, mengungkapkan, pinjaman yang ia dapat bisa langsung digunakan untuk membeli bahan baku batik dan tambahan modal.

“Jumlah pinjamannya juga bisa naik. Kita jadi lebih bersemangat. Kita setiap minggu juga bisa bertemu nasabah yang lain sehingga menambah saudara. Kami juga mendapat pelatihan dan diajari tentang kedisiplinan,” katanya.

Wasrihatun berharap usahanya dapat semakin berkembang dan dapat memperoleh pembiayaan yang lebih besar seperti melalui KUR Klaster.

Ibu Tentrem, pembuat pisau dan nasabah BWM Al Manshur Barokahing Gusti, Klaten, Jawa Tengah, mengatakan hal senada.

“Kami jadi tidak terkena jebakan rentenir. Sebelum ada BWM, cari modalnya sulit, padahal usaha kami lancar. Sekarang, usaha kami sudah meningkat dan bisa menyetok produk,” ucap Tentrem

Agar perkembangan BWM kian masif, sinergi berbagai pihak perlu terus didorong. Mulai dari OJK, Kementerian Koperasi dan UKM, pesantren, LAZ, pemuka agama, seperti kiai dan ulama di pesantren, hingga para donatur pribadi/perusahaan yang peduli. Dengan demikian, jumlah BWM akan semakin meningkat agar masyarakat kecil yang merasakan manfaatnya kian banyak. (OL-09)

BERITA TERKAIT