09 December 2019, 14:45 WIB

Polio Kembali Muncul di Malaysia Setelah Hampir Tiga Dekade


Willy Haryono | Internasional

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
Ilustrasi--Anak-anak mendapatkan imunisasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

SEORANG bayi berumur tiga bulan asal Malaysia didiagnosis mengidap polio. Ini merupakan kasus pertama polio di Malaysia sejak 1992 atau hampir tiga dekade lalu.

Bayi kelahiran Tuaran, Sabah, itu dinyatakan positif polio di sebuah rumah sakit pada Jumat (6/12). Bayi itu dibawa ke rumah sakit karena mengalami panas dan gejala lemah otot.

"Pasien masih dirawat di ruang isolasi dan sejauh ini berada dalam kondisi stabil. Namun, ia masih membutuhkan bantuan untuk bernapas," kata Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah, dilansir dari The Straits Times, Minggu (8/12).

Malaysia dinyatakan bebas polio pada 2000, usai melaporkan kasus terakhir penyakit tersebut pada 1992.

Kemunculan terbaru di Malaysia ini terjadi beberapa bulan usai Filipina menyatakan kasus perdana polio sejak 1993 pada September lalu.

Noor Hisman mengatakan rangkaian tes menunjukkan bayi asal Sabah itu terinfeksi virus polio dengan kemiripan genetik dengan yang terdeteksi di Filipina.

Baca juga: Tiongkok Berencana Setop Penggunaan Komputer Buatan AS

Pemeriksaan di area tempat bayi itu dilahirkan menunjukkan 23 dari 199 anak-anak berusia antara 2 dan 15 tahun tidak menerima vaksin polio.

"Situasi ini mengkhawatirkan karena penyebaran polio hanya bisa dihentikan dengan imunisasi," tutur Noor Hisham.

Ia menegaskan angka rata-rata vaksinasi harus berada di atas 95% untuk mencegah infeksi polio.

Hingga saat ini, belum ada obat efektif yang dapat menyembuhkan polio. Namun, penyakit yang menyerang sistem syaraf ini bisa dicegah dengan vaksin.

Virus polio menyebar cepat di antara anak-anak, terutama yang hidup di lingkungan kurang bersih di wilayah terpencil atau area konflik. Afghanistan dan Pakistan adalah dua negara terakhir tempat polio mewabah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia menghadapi tantangan dalam meyakinkan sejumlah warga agar mau mengimunisasi anak mereka.

Pada 2016, lima anak-anak di Malaysia meninggal dunia akibat difteri, sebuah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT