09 December 2019, 08:35 WIB

Mengantisipasi Masa Depan Pendidikan Tinggi


Irna Djajadiningrat Dosen Fakultas Sastra Universitas Darma Persada | Opini

Duta
 Duta
Ilustrasi

REVOLUSI teknologi 4.0 belakangan ini marak didiskusikan dan sekaligus dicemaskan. Salah satu yang paling dicemaskan akibat kemajuan teknologi 4.0 ialah kemungkinan hilangnya sejumlah lapangan pekerjaan yang disebabkan sistem otomatisasi.

Guna mengantisipasi perubahan ini, Jepang meluncurkan program Society 5.0, yaitu sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.

Peluncuran Society 5.0 dipicu oleh permasalahan penurunan angka jumlah penduduk. Dengan konsep ini, Jepang berharap tenaga manusia akan tetap bisa berperan dalam mentransformasi big data guna membuka peluang bagi kehidupan manusia.

Peran pendidikan tinggi

Bagaimana peran pendidikan tinggi dalam mengantisipasi perubahan global yang begitu cepat dan sulit diramalkan ini? Mengacu pada data Bappenas 2018, Indonesia memiliki penduduk usia muda (milenial) sebanyak 90 juta. Kelompok milenial ini diharapkan yang akan menjadi motor perubahan dan kemajuan terkait dengan pembangunan ekonomi dan sosial dalam masyarakat.

Pendidikan tinggi diharapkan berada di garis depan dalam memikirkan dan memecahkan masalah yang dihadapi yang diakibatkan perubahan ini. Karenanya, pendidikan tinggi harus mampu melakukan transformasi besar-besar­an jika tidak ingin ditinggalkan atau hanya menghasilkan lulusan yang tidak mampu terserap di pasar kerja.

Seiring dengan kemajuan teknologi digital, tantangan lain yang dihadapi pendidikan tinggi ialah pergeseran cara pandang masyarakat yang menganggap pendidikan tinggi bukan lagi satu-satunya pilihan untuk menuju sukses. Kedekatan kaum muda dengan dunia digital membuat mereka dapat berkreasi dan melakukan terobosan-terobos­an baru yang menghasilkan keuntungan materi tanpa harus menghabiskan waktu di bangku kuliah.

Berkaitan dengan ini, setidaknya ada tiga tantangan berat institusi pendidikan ke depan, terutama pada pendidikan tingkat sarjana. Pertama, pandangan kaum muda yang berubah terhadap konsep bekerja. Kaum muda tumbuh dengan internet yang memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas dan mendapatkan informasi secara cepat.

Pola pikir dan karakter gene­rasi ini penuh ide, visioner, inovatif, serta memiliki pengetahuan dan penguasaan Iptek. Dengan penguasaan teknologi digital yang baik, kaum milenial memiliki konsep kerja yang fleksibel serta tidak dibatasi ruang, jarak, dan waktu.     

Konsep bekerja masa kini mengutamakan performa, kebebasan, dan tanggung jawab. Kekakuan kantor dianggap sebagai pengekangan diri, membatasi kreativitas, dan tidak efektif. Oleh karena itu, pekerjaan yang akan banyak digeluti kaum milenial ialah yang bersifat pengembangan kreativitas.

Kedua, banyak bidang pekerjaan di masa mendatang tidak memerlukan gelar akademik. Perusahaan atau pemberi kerja lebih membutuhkan keterampilan dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja. Gelar akademik dijadikan langkah awal saja untuk mendapat pekerjaan. Akhirnya, tidak digunakan sebagai dasar promosi atau mendukung karier seseorang.

Ada fakta lain bahwa teknologi baru dengan beragam aplikasi kerja muncul dengan kecepatan super tinggi yang mengakibatkan perusahaan tidak lagi membutuhkan karyawan yang hanya memiliki pengetahuan yang statis. Sampai saat ini belum ada pendidikan tinggi yang mampu melindungi lulusannya dari ketidakpastian masa depan ini.

Ketiga, perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat pendidikan harus menghasilkan riset yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan industri. Jika riset yang dilakukan para peneliti di perguruan tinggi masih dalam ranah pemenuhan tridarma perguruan tinggi, akan sulit mengikuti kecepatan kemajuan industri.

Reformasi pendidikan tinggi

Secara konvensional, pendidikan dianggap sebagai persiapan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dipandang sebagai unsur yang paling dominan dalam meningkatkan kemajuan serta mengubah pranata sosial.

Pendidikan tinggi sebagai institusi dalam mendidik ge­nerasi untuk membangun masa depan harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman yang tidak pernah statis serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Hasil penelitian dari pendidikan tinggi harus nyata, relevan, mampu meng­antisipasi kebutuhan sosial, serta mekanisme transfer pengetahuan yang tepat dan efektif.

Karenanya, perguruan tinggi perlu menyusun struktur baru untuk memperluas pengetahuan dan perspektif mahasiswa yang dibutuhkan dunia kerja dengan tidak hanya bertumpu pada satu bidang ilmu (monodisipliner), tetapi bidang yang interdisipliner, lintas disipliner, atau bahkan transdisipliner.

Pengemasan irisan-irisan pengetahuan setiap bidang ilmu harus dilakukan dengan rancangan yang terintegrasi dan holistis agar menghasilkan pandangan multiperspektif.  

Model pendidikan ini bertujuan untuk menjawab persoalan-persoalan masyarakat/pembangunan yang semakin kompleks dan tidak dapat lagi dijawab/diselesaikan oleh satu bidang ilmu.

Dalam pelaksanaannya memang tidak mudah untuk menerapkan pendidikan interdisipliner atau lintas disipliner karena masih adanya anggap­an di kalangan pengelola dan pengajar (faculty) bahwa pendekatan interdisipliner akan melanggar etika keilmuan. Juga masih banyak pandangan konvensional lainnya yang mengemuka untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Selain itu, juga akan muncul alasan yang bersifat administratif dan teknis penyelenggaraan pendidikan.  

Sebenarnya, Kemendikbud sebagai perumus dan pengelola kebijakan pendidikan tinggi sudah memberi peluang agar perguruan tinggi berani membuka program studi ‘kekinian’. Program studi kekinian tersebut harus diterjemahkan ke dalam bidang yang mempunyai relevansi dengan industri, baik sekarang maupun masa depan.

Untuk menjawab hal itu, ada sebuah fakta yang dapat menjadi gagasan bagi pendidikan tinggi untuk menghadapi masa ‘pabrik cerdas’. Karena manusia selalu menjadi pencipta dan penemu, akan muncul bidang-bidang lain atau peluang pekerjaan baru di luar bidang pekerjaan yang akan terancam hilang seiring dengan berkembangnya industri digital.

Perubahan-perubahan tersebut harus menjadi tantangan bagi pendidikan tinggi untuk secara mendasar memikirkan kembali tujuan pendidikan tinggi dan menata ulang konsep pendidikan masa depan.

 

BERITA TERKAIT