09 December 2019, 01:00 WIB

Fintech dan Perbankan Perlu Gotong Royong


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

ADAM DWI / MI
 ADAM DWI / MI
Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah.

PERKEMBANGAN industri finansial berbasis teknologi (fintech) di Indonesia diyakini tidak mengganggu perbankan. Justru keduanya dapat berkolaborasi dalam balutan simbiosis mutualisme untuk mengisi ceruk kebutuhan dana yang masih besar.

“Kolaborasi (fintech dan perbankan) kalau terus dilakukan di Indonesia akan sangat luar biasa. Ini berbeda dengan negara lain saat fintech malah mendisrupsi perbankan karena gap kredit kecil,” ujar Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah kepada Media Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kondisi negara lain itu berbeda dengan Indonesia, yang memiliki kesenjangan kebutuhan terhadap kredit masih besar. Karenanya, Kuseryansyah melihat kemungkinan besar terjadi kolaborasi antara fintech dan perbankan untuk bersama-sama menggarap segmen yang belum terlayani dan tak masuk persyaratan.

Jika menilik laporan e-Co­nomy SEA 2019 oleh Google dan Temasek, pada akhir 2019 menyebut masih terdapat 92 juta jiwa penduduk dewasa yang belum tersentuh layanan finansial atau perbankan di Indonesia. Jumlah ini lebih dari separuh total penduduk dewasa Indonesia yang mencapai 182 juta jiwa.

Berbeda dengan bank yang menggunakan persyaratan ketat dalam pemberian kredit, fintech cenderung lebih fleksibel dengan menggunakan teknologi dan data alternatif. Dengan metode tersebut, fintech mampu mendapatkan kreditor berkualitas untuk tetap dapat dilayani.

Meski begitu, Kuseryansyah menyebutkan fintech tidak hanya mengandalkan pendanaan dari bank karena fintech memiliki keleluasaan lain, yakni dapat menerima peminjam individual.  

Alternatif penyaluran kredit

Di sisi lain, perbankan dihadapkan pada pilihan terbatas untuk penyaluran kredit agar tetap tumbuh. Fintech pun dipandang menjadi solusi sebagai alternatif penyaluran kredit di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Menurutnya, bank melihat fintech sebagai aplikasi yang secara mudah dan sederhana dapat digunakan dalam menyalurkan kreditnya ke ceruk yang tidak dapat mereka sentuh. Ia pun menilai bank yang cerdas akan memanfaatkan fintech untuk berkolaborasi.

Salah satu kerja sama fintech dengan perbankan diwujudkan Kredivo dengan Bank Permata.
Komisioner Kredivo Umang Rustagi menyebutkan, pertumbuhan fintech yang cepat menarik perhatian dari berbagai investor, termasuk perbankan. Perbankan konvensional saat ini pun turut menyalurkan dananya untuk berkolaborasi dengan pelaku fintech.

Meski begitu, tidak mudah bagi bank untuk menyalurkan dana kepada fintech. Selain kredibilitas, kemampuan manajemen risiko oleh fintech juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi perbankan.

Direktur Ritel Perbankan Bank Permata Djumariah Tenteram mengimbuhkan, ada prospek masa depan yang menguntungkan bagi perbankan kala bekerja dengan fintech. Kemitraan dengan fintech seperti Kredivo juga melalui banyak pertimbangan.

Sejumlah fintech saat ini menerima dana segar dari perbankan. Contohnya, Kredivo memperoleh pendanaan dari Bank Permata hingga Rp1 triliun. Ada pula Investree berkolaborasi dengan BRI dan Halofina bersama Mandiri Capital. (S-3)

BERITA TERKAIT