08 December 2019, 20:10 WIB

Pabrik Baru Polyethylene di Cilegon Hemat Devisa Rp8 Triliun


Mirza Andreas | Ekonomi

Antara
 Antara
Presiden Joko Widodo (kedua kiri)  berbincang dengan Founder PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) Prajogo Pangestu (kedua kanan).

PABRIK baru polyethylene di Cilegon, Banten, diproyeksikan akan menghemat devisa hingga Rp8 triliun per tahun. Pabrik baru polyethylene yang dibangun PT Chandra Asri Petrochemical tersebut diharapkan dapat menekan impor yang masih membebani neraca perdagangan Indonesia saat ini.

“Dengan berdirinya pabrik baru polyethylene ini, kita patut berharap bahwa Indonesia akan mampu menyubstitusi impor produk polyethylene dengan volume sebanyak 400 ribu ton per tahun. Hal ini juga akan berpotensi menghemat devisa hingga mencapai Rp8 triliun dan berpeluang menciptakan lapangan kerja baru di industri plastik hilir sebanyak 17.500-25.000 orang,” papar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya akhir pekan lalu.

Baca juga:Kemenhub Ingatkan Plt Garuda Indonesia hanya Berlaku Tujuh Hari

Pabrik polyethylene yang biaya pembangunannya mencapai US$380 juta itu diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (6/12) lalu. Produk polyethylene umumnya digunakan untuk bahan baku pendukung infrastruktur, pipa air, kabel listrik, kemasan makanan, peralatan rumah tangga, dan lainya.

Agus menjelaskan, gencarnya pertumbuhan industri kimia di dalam negeri merupakan bagian dari implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Pasalnya, produk keluaran industri kimia akan banyak terserap sektor lain di dalam negeri.

"Industri kimia menjadi salah satu sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan. Industri kimia dikategorikan sebagai mother of industry karena mampu menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh banyak sektor manufaktur lainnya, seperti industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif, dan elektronika,” jelasnya.

Karena itu, Menperin menyampaikan apresiasinya kepada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk yang telah menyelesaikan pembangunan pabrik baru polyethylene itu. Rencananya, pabrik tersebut langsung beroperasi komersial mulai bulan Desember ini dengan kapasitas sebesar 400 ribu ton per tahun.

Agus menyebutkan, kebutuhan polyethylene domestik saat ini mencapai 1,6 juta ton per tahun. Sedangkan, Indonesia baru memiliki pabrik polyethylene eksisting dengan kapasitas total sebesar 780 ribu ton per tahun.

“Jadi, beroperasinya pabrik ini, sesuai dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk terus menggenjot investasi dan hilirisasi sektor industri. Upaya strategis ini juga diyakini meningkatkan perekonomian nasional secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor, dan akan pula dapat memperbaiki neraca perdagangan kita saat ini karena berorientasi ekspor,” kata Agus. (RO/Msc)

BERITA TERKAIT