08 December 2019, 17:35 WIB

APFI Diharapkan Menjadi Lokomotif Industri Perfilman Nasional


Deri Dahuri | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Anggota AFPI dan anggota Kehormatan APFI siap menjadi APFI sebagai lokomotif perfilman Indonesia. 

KONGRES II Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) telah diselenggarakan di Jakarta, pada Sabtu, 7 Desember 2019. Kongres tersebut dihadiri tujuh dari delapan anggota APFI.

Dalam Kongres II APFI  telah dibicarakan hal-hal terkait permasalahan di dalam industri perfilman di Tanah Air seperti pembajakan film, pendaftaran judul dan permasalahan hak atas judul film serta peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di perfilman Indonesia.

Dalam Kongres AFPI, turut hadir Erick Thohir selaku Ketua Dewan Pengawas dan Dede Yusuf selaku anggota Kehormatan APFI. Sebagai penyumbang 70% pangsa pasar penonton film Indonesia, produktivitas para anggota APFI di industri ini tidak diragukan lagi.

Ketua APFI Chand Parwez Servia mengatakan bahwa asosiasi yang dipimpinnya akan terus menghadirkan film-film bermutu yang bukan hanya menghibur, namun juga mendidik, membawa pesan moral yang baik dan sukses secara komersial.

Dalam empat tahun terakhir ini, menurut Patwez,  film Indonesia terbukti bisa bangkit dan menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Hal itu terbukti dari banyaknya judul-judul film Indonesia yang sukses meraih jutaan penonton mengalahkan film-film asing yang diproduksi studio ternama.

“Sudah terbukti bahwa kita bisa, mari terus jaga momentum ini,” tegas Parwez di Jakarta, Sabtu (7/12).

Data dari Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjukkan bahwa jumlah penonton film Indonesia meningkat lebih dari tiga kali lipat dari 15 juta penonton pada 2015 menjadi hampir 50 juta penonton pada akhir tahun 2018.

Sekretaris APFI Celerina Judisari menegaskan bahwa APFI masih punya tantangan besar yakni bagaimana film-film Indonesia dapat menembus pasar internasional.

“Tentu semua aspek dari kegiatan perfilman harus kita tingkatkan, melalui pelatihan, penelitian dan interaksi dengan komunitas perfilman global” katanya.

Selain mengukuhkan para pengurus periode 2019-2023, APFI juga menerima anggota baru, yakni tiga perusahaan perfilman ternama Indonesia yakni Hitmaker, Visinema Pictures, dan Screenplay Bumilangit.

Penambahan anggota ini semakin memperkuat jaringan APFI yang didirikan pada 2015 oleh tujuh perusahan film yakni yakni Starvision, Maxima Pictures, Mahaka Pictures (Celerina Judisari), Falcon Pictures (HB Naveen), Rapi Films (Gope Samtani), Soraya Intercine Film (Ram Soraya), Mizan Pictures (Putut Widjanarko), dan Dede Yusuf sebagai anggota Kehormatan APFI.

Dengan keterlibatan yang aktif dari 11 anggota APFI tersebut diharapkan APFI akan mampu menjadi lokomotif industri perfilman Indonesia.

Hitmaker Studios didirikan pada tahun 2012 oleh Rocky Soraya. Telah berhasil memecahkan rekor Muri (Museum Rekor-Dunia Indonesia) sebagai sutradara pertama di Indonesia yang berhasil menembus angka di atas satu juta penonton dalam empat karya film bergenre horor secara berturut-turut2.

Visinema Pictures yang didirikan oleh Angga Dwimas Sasongko pada tahun 2008 adalah perusahan film yang sudah melahirkan sejumlah film nasional box-office seperti Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2010), Filosofi Kopi (2015) dan Keluarga Cemara (2019).

 Screenplay Bumilangit yang didirikan pada tahun 2003 dan saat ini dipimpin oleh Bismarka Kurniawan dan Wicky V. Olindo telah melahirkan sejumlah karakter film dan Komik yg lebih dikenal dengan Bumi Langit Universe, salah satunya yang dianggap paling fenomenal adalah film Gundala (2019) yang dibintangi Abimana Aryasatya. (OL-09)

BERITA TERKAIT