08 December 2019, 14:34 WIB

Masih Ada Daerah Dengan Cakupan Imunisasi Rendah


Palce Amalo | Nusantara

Antara
 Antara
Di Indonesia cakupan imunisasi dasar lengkap di bawah 80% terdapat di sembilan provinsi, atau bertambah dari tujuh provinsi pada 2017.

SEDIKITNYA 19,9 juta anak rentan tertular penyakit karena tidak  mendapatkan imunisasi lengkap pada 2018. Angka itu sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang jumlah anak  yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap di seluruh dunia.

"Anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya sehingga muda tertular penyakit, menderita sakit berat. Selain itu, mereka juga menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain," ujar Kepala Seksi Imunisasi Dasar, Kementerian Kesehatan Syamsu Alam saat menyampaian meteri Program
Imunisasi Nasional' pada Pelatihan Peliputan Hak Anak dan Kekerasan di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (8/12/2019).

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari sejak Sabtu (7/12) digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama Kementerian Kesehatan RI dan United Nations Children's Fund Unicef (Unicef), diikuti 20 jurnalis dari Indonesia timur. Pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada jurnalis tentang hak-hak anak atas kesehatan terutama soal imunisasi.

Dia menyebutkan pada 2018, cakupan imunisasi dasar lengkap di bawah 80% terdapat di sembilan provinsi, atau bertambah dari tujuh provinsi pada 2017.

Selanjutmya cakupan imunisasi antara 80-92% juga berkurang dari 12 provinsi pada 2017 menjadi 10 provinsi pada 2018. Dan cakupan imunisasi di atas 92,5% sebanyak 15 provinsi. Pemerintah menetapkan cakupan imunisasi harus mencapai angka 95%. Sedangkan cakupan dasar lengkap per 21 November 2019 terdiri dari 17 provinsi di bawah 60%, 16 provinsi
antara 60-77,5%, dan satu provinsi di atas 77,5%.

Akumulasi anak yang tidak mendapatkan imunisasi rutin lengkap berdampak terhadap tidak terbentuknya  kekebalan kelompok (Herd Immunity).

"Imunisasi bukan hanya bermanfaat bagi individu tetapi juga memiliki manfaat sosial," tambahnya.

Untuk pencapaian yang masih rendah, Kementerian Kesehatan, kata Syamsu, dihadapkan pada beberapa kondisi dan tantangan. Di antaranya bias informasi yang berujung pada munculnya anggapan di masyarakat bahwa vaksin measles and rubella (MR) bertentangan dengan nilai-nilai agama. Kemudian, lanjut dia, kondisi geografis yang menyulitkan petugas kesehatan menjangkau daerah-daerah terpencil.

"Muncul fenomena di masyarakat menolak imunisasi. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin menurun. Ada faktor politik, sejarah, hingga emosional," ujar Syamsu Alam.

Akan tetapi, lanjut dia, dua persoalan tersebut telah diatasi  dengan menggandeng tokoh-tokoh agama. Sedangkan daerah yang sulit dijangkau diatasi dengan cara menggunakan helikopter.
 
"Jangan biarkan kuman penyakit menyerang anak-anak kita, berikan imunisasi lengkap," ucapnya.

Imunisasi lengkap terdiri dari imunisasi dasar bagi bayi, imunisasi lanjutan bagi bayi di bawah dua tahun, dan imunisasi lanjutan bagi anak usia sekolah dasar (SD).

Perwakilan dari Unicef Indonesia timur Henky Widjaja mengatakan kesehatan anak menjadi masalah utama di Indonesia. Namun, sesuai Survei Demografi dan kesehatan, angka kematian bayi mengalami penurunan dari 68 orang per 1.000 kelahiran hidup pada 1991 menjadi 24 orang 1.000 kelahiran hidup pada 2017.

Pembicara lainnya, Purnamawati Sujud dari Yayasan Orang Tua Peduli menekankan betapa pentingnya imunisasi. Dia menyebut, vaksin merupakan penemuan fenomenal dan terbesar di dunia kedoktran yang tidak ternilai harganya.

baca juga: Belitung Utamakan Wisata Berbasis Pengalaman

"Sehingga imunisasi dianggap sebagai suatu upaya harus kita blowup. Imunisasi adalah suatu upaya kemanusian dan kesepakatan global,� jelas Purnamawati.

Tujuan akhir dari imunisasi, lanjut dia, melindungi anak dari berbagai ancaman penyakit, seperti campak, hepatitis B, polio, dan lainnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT