08 December 2019, 14:34 WIB

Rentan Bunuh Diri, Pemuda Butuh Pemahaman


Bayu Anggoro | Humaniora

MI/Andry Widyanto
 MI/Andry Widyanto
Para mahasiswa sedang mengikuti kuliah umum di UI. Mahasiswa termasuk salah satu pihak yang memiliki potensi bunuh diri. 

ORANG yang baru beranjak dewasa cenderung memiliki potensi bunuh diri yang lebih tinggi. Minimnya pemahaman mereka terhadap masalah menjadi salah satu pendorong mereka untuk memilih mengakhiri hidup.

Ketua Perhimpunan Psikiatri Indonesia Teddy Hidayat mengungkapkan hal tersebut. Menurut dia, bunuh diri banyak terjadi pada warga berusia dewasa muda.

Baca juga: 5% Siswa Akreditasi A Rentan Bunuh Diri

"Bunuh diri di usia dewasa muda paling banyak," katanya dalam acara 'Sosialisasi Pencegahan Mahasiswa Bunuh Diri' di Rumah Sakit Melinda 2 Bandung, Sabtu (7/12).

Berdasarkan penelitiannya, 5% dari 400 sampel mahasiswa pernah mencoba dan akan bunuh diri jika menemukan persoalan yang dianggap rumit.

"Penelitian dari 400 sampel mahasiswa, 20 orang pernah mencoba atau akan melakukan bunuh diri," katanya.

Dia menjelaskan, bunuh diri terjadi karena yang bersangkutan telah mengalami depresi. Responden yang ditelitinya menyebut berbagai faktor yang menyebabkan bunuh diri seperti persoalan keluarga, akademis, pertemanan, sosial, dan ekonomi. "Paling banyak faktor keluarga jadi pencetus bunuh diri," katanya.

Dia juga menyebut dalam setiap tahun terdapat 10 ribu kasus bunuh diri di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya melakukan sosialisasi kepada generasi muda dengan harapan mampu mencegah mereka dari upaya bunuh diri.

Menurut dia hal ini penting dilakukan karena mereka merupakan generasi muda yang akan menjadi tulang punggung keluarga dan bangsa di masa depan.

"Diberi pemahaman,  agar semua orang tahu cara mencegahnya. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan bunuh diri, tanda-tandanya, dan bagaimana saat krisis orang-orang yang akan bunuh diri," katanya.

Dia juga mengimbau perguruan tinggi agar memiliki perhatian yang tinggi terhadap persoalan ini. "Kampus harus menyediakan konseling bagi mahasiswanya, tentang seputar kehidupan mereka," kata dia.

Teddy yang merupakan Tim Psikiatri RS Melinda 2 Bandung itu pun menggratiskan bagi warga tidak mampu yang akan konseling terkait masalah kejiwaan.

"Kita keluarin obat, yang enggak mampu obatnya juga digratisin. Silakan datang bagi yang enggak punya uang," katanya.

Di tempat yang sama, Tim Psikiatri RS Melinda 2 Bandung, Elvine Gunawan, mengatakan, dalam setiap bulan pihaknya menerima 471 pasien kejiwaan. Dari jumlah itu, terdapat 14-24 pasien yang mengaku akan dan pernah mencoba bunuh diri.

Berdasarkan pasien yang pernah ditanganinya itu, orang yang akan bunuh diri memiliki ciri-ciri seperti merasa hampa, tak punya tujuan, dan tak punya harapan untuk berbuat yang lebih baik lagi.

"Kalau karakter kepribadiannya yaitu mereka yang tidak puas dengan diri sendiri, mengomparasikan terus dengan teman-temannya, dan dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik," katanya. Untuk mencegahnya, dia meminta keluarga atau relasi lainnya memiliki pemahaman yang baik tentang cara mencegahnya.

"Jangan men-judgement, mau mendengarkan apa masalah dia. Enggak perlu menggali dalam tentang persoalannya, yang penting apa yang dia perluin, bisa kita beri, lalu ingatkan dia," katanya. (BY/A-3)

BERITA TERKAIT