08 December 2019, 11:07 WIB

Kemenhan Buka Pengadaan Komponen Cadangan Untuk ASN dan Mahasiswa


Agus Utantoro | Nusantara

MI/Widjajadi
 MI/Widjajadi
Sebanyak 231 mahasiswa Universitas Surakarta mengikuti pelatihan bela negara di Lanud Adi Soemarmo, November 2019

KEMENTERIAN Pertahanan pada 2020 awal akan segera membentuk Komponen Cadangan (Komcad). Pembentukan ini, sesuai dengan amanat Undang Undang tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN).

Sekjen Kementerian Pertahanan Laksanama Madya TNI Agus Setiadji di saat hadir di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, Sabtu (7/12/2019) mengatakan Komcad itu nantinya akan banyak diambil dari kalangan ASN (Aparatur Sipil Negara) dan mahasiswa khususnya Menwa. Menurut dia, setelah masuk Komcad, mereka yang bertatus
sebagai ASN, mahasiswa maupun lainnya tdak akan kehilangan status sipilnya.

Dia menjelaskan melalui UU no.23/2019 tentang PSDN itu, Kementerian Pertahanan akan ikut mengembangkan generasi muda. Dikatakan, pendaftar Komcad, harus pada rentang usia 18 hingga 35 tahun dan posisinya sebagai Komcad ini akan selesai pada usia 48 tahun. Namun untuk menjadi Komcad, setelah mendaftar akan dilakukan tes dan kemudian mengikuti pendidikan selama tiga bulan.

"Mahasiswa dan ASN ini yang jadi Komcad. Dalam satu tahun kami harapkan bisa ratusan ribu yang kita didik bersama, kita bentuk generasi muda yang tidak militerisme. Setelah bela negara pendidikan tiga bulan di berbagai bidang mereka akan kembali ke profesi semula. Namun sewaktu-waktu akan disegarkan kembali," ujarnya.

Ia menambahkan, anggota Komcad ini akan mendapatkan seragam dan uang saku.

"Dari topi, baju sampai sepatu dan uang saku akan didapat, minimal cukup lumayan lah jumlahnya. Kewajiban negara untuk membiayai ini," ujarnya.

Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Bondan Toara Sofyan menambahkan, Komcad tidak diperbolehkan melakukanm demo mengritik pemerintah. Mahasiswa yang menjadi Komcad menjadi sumber paling potensial dibanding sumber lainnya.

Bondan menjelaskan, peserta bela negara bisa diterima lewat jalur potensi khusus seperti punya keahlian teknologi informasi. Bondan menjelaskan, usai menempuh pendidikan tiga bulan, peserta akan kembali ke kampus dan beraktivitas seperti biasa. Anggota resimen mahasiswa atau menwa yang ikut program ini akan
diwajibkan bermarkas dan melapor ke Kodam. Ia menambahkan tidak akan ada lagi mako di kampus sebagaimana keberadaan Menwa selama ini.
 
Bahkan, kalau tidak sedang dalam kegiatan Komcad,  mereka tidak diperbolehkan mengenakan seragam. Bondan juga mengatakan tahap awal program bela negara ini akan fokus digelar di Kodam. Namun program ini akan dijadikan mata kuliah pilihan dan akan dibahas dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurutnya, mahasiswa yang tidak tergabung di Menwa bisa mendaftar program ini jika sudah lulus mata kuliah bela negara.

Pada kesempatan sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Laksdya TNI Agus Setiadji membantah program bela negara untuk mahasiswa  adalah upaya menghidupkan militerisme di kampus. Menurut dia, brbeda dengan di negara lain yang menempatkan sebagai Wajib Militer, di Indonesia untuk menjadi bagian dari Komcad ini bersifat sukarela.

baca juga: Cuaca Ekstrem Masih Ancam Wilayah Jateng Selatan

Keberadaan Komcad ini untuk menghidupkan semangat bela negara juga untuk menghadapi ancaman di era revolusi industri 4.0. Agus mengungkap di era saat ini ancaman begitu beragam tak hanya yang berbau militer saja namun juga non militer.

"Perang proxy sangat bisa terjadi, ini tak perlu gunakan senjata untuk memecah belah hanya perlu permainan pembentukan opini atau perang psikologi menghancurkan sendi kehidupan bangsa. Saya berharap generasi muda bisa memahami dan mempelopori menjaga wilayah nasional kita terutama dari ancaman yang semakin beragam," ungkapnya. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT