08 December 2019, 10:18 WIB

Pemerintah Gerak Cepat Hilirisasi Hasil Litbang


Siswantini Suryandari | Humaniora

KEMENTERIAN Riset Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya melakukan percepatan untuk mewujudkan hasil lembaga litbang bisa menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Badan Riset Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemenristek/BRIN), Kemal Prihatman mengatakan, pihaknya telah mengembangkan kualitas kelembagaan Iptek melalui program pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk meningkatkan kualitas litbang, agar mampu menghasilkan produk iptek dan inovasi yang berbasis demand.

"Ini akan membuat lembaga Litbang mampu mendukung daya saing pengguna teknologi baik dari dunia industri, pemerintah dan masyarakat sesuai potensi ekonomi daerah," kata Kemal di acara media gathering Forum Wartawan Teknologi dan Inovasi (Forwatekin) dengan Kemenristek/BRIN di Bogor, Jumat (6/12/2019).

Dari 300 lembaga litbang yag ada, 137 di antaranya sudah ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek oleh Kemenristek.

Sejumlah PUI tersebut telah menghasilkan 863 hak paten, 2.442 publikasi internasional, 2.969 publikasi nasional, 3.544 kerja sama riset nasional dan 1.094 kerja sama riset internasional. Tahun 2020 akan ada 10 produk start-up yang akan dimitrakan dengan sektor industri yang bergerak di sektor ketenagalistrikan dan pangan.

Kemenristek/BRIN akan melakukan percepatan agar tidak tertinggal dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan. Meski demikian, ada kendala lain yang kini sedang diselesaikan oleh Kemenristek. Yaitu tenaga alih teknologi yang tersertifikasi yang masih kurang.

Menurut Kemal, para tenaga alih teknologi ini memiliki peran penting dalam menentukan nilai teknologi yang dikembangkan lembaga litbang.

"Saat ini kami baru punya tiga ahli, dua di IPB dan satu di LIPI. Ada 20 tenaga yang disiapkan, 13 orang di antaranya sedang disekolahkan di Inggris untuk mendapatkan sertifikasi," kata Kemal.

Tenaga alih teknologi ini bisa menjadi penengah antara lembaga litbang atau innovator dengan investor yang akan membeli produk tersebut. Tenaga tersebut bisa menghitung berapa kira-kira nilai ekonomi yang bisa ditanamkan oleh investor untuk hasil inovasi tersebut.

"Selama ini memang belum ada. Inovator atau lembaga litbang saat ditanya pun tidak tahu. Inilah perlunya tenaga ahli tersebut," lanjutnya.

Kepala Sub Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (KST), Yani Sofyan menambahkan saat ini Indonesia memiliki Science Techno Park (STP) yang mencapai 46 buah. Dan 19 STP di antaranya dibina Kemenristek.

Rinciannya, 7 berupa tujuh badan usaha, 54 lembaga pemerintah kementerian, 49 lembaga pemerintah nonkementerian dan 28 perguruan tinggi. STP-STP ini dibangun sebagai wahana hilirisasi iptek untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penyebaran pusat-pusat pertumbuhan sesuai dengan amanat Perpres no. 106 Tahun 2017 tentang KST.  

baca juga: Gunung Api Fenomenal di Pasifik

"Wahana yang dikelola secara profesional untuk mengembangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan melalui pengembangan, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan penumbuhan perusahaan pemula berbasis teknologi," ujarnya. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT