08 December 2019, 03:45 WIB

Tidak Atraktif, tapi Perlu Disimak


Galih Agus Saputra | Weekend

DOK. IMDB.COM
 DOK. IMDB.COM
 film Dark Waters 

MARK Ruffalo kembali tampil sebagai superhero. Dalam film Dark Waters (2019) yang kini sedang tayang di bioskop, ia tidak berupa makhluk gigantik bertubuh hijau yang pemarah, tapi sebagai pengacara simpatik yang kasusnya menoreh sejarah dalam bidang hukum korporasi.

Film yang terinspirasi dari kisah nyata ini boleh dibilang sebagai proyek dan hasrat seorang Mark, yang pada kesempatan selanjutnya turut menyeret sutradara Todd Haynes. Premis yang disuguhkan juga tak kalah menarik. Ia berkutat pada skandal korporasi multinasional yang melakuan pencemaran lingkungan dalam skala besar dan dalam jangka waktu sangat panjang.

Melalui film ini, Mark sungguh mendobrak nalar dengan semangat ekologi dan aktivismenya. Rob Bilott (yang diperankan Mark), pada mulanya ialah seorang pengacara yang selalu pasang badan ketika suatu korporasi dituntut karena masalah pencemaran atau limbah kimia. Namun, sikap itu kemudian berubah 180 derajat ketika mengetahui bahwa korporasi yang dibelanya, DuPont Co--populer dengan produk teflon--ternyata hampir 'membunuh' sebagian besar komunitas di Virginia Barat, Amerika Serikat, termasuk salah satu petani yang mengadu kepada Biliott di kantor firmanya.

Petani yang mengadu ke Bilott, Wilbur Tennant (diperankan Bill Camp), bahkan tak kalah total aksinya dalam film ini. Amarahnya pada korporasi seakan tak pernah padam, apalagi ketika ladangnya berubah menjadi kuburan 190 ekor sapi peliharaan yang mati karena limbah DuPont telah mencemari perairan di sekitarnya.

Pada bagian ini, detail yang disuguhkan Haynes juga cukup menawan. Asam Perfluorooctanoic (PFOA) atau C8--elemen yang digunakan DuPont untuk memproduksi teflon--menjadi aspek yang paling ditonjolkan (highlight) karena memang demikian DuPont CO mencemari lingkungan atau membunuh komunitas secara perlahan. Di sisi lain, ia banyak mengandalkan palet warna suram dan kelabu untuk menggambarkan kota yang berada dalam 'cengkeraman' DuPont.

Keunggulan lain yang dapat dilihat dari film ini ialah fakta (dampak) ilmiah kimiawi yang rupanya memiliki banyak cabang. Penyimpangan yang dilakukan DuPont CO, yang mulanya hanya terjadi di suatu TPA limbah, di perdesaan Virginia Barat berakibat pada polusi air sekaligus udara yang sifatnya global.

Pada mulanya, Bilott memang tampak begitu stres menghadapi kasus ini. Namun, fakta demi fakta mampu diraih melalui arsip atau dokumen pertanggungjawaban publik milik DuPont CO yang dikirim ke firma Bilott.

Mark juga cukup sukses membangun karakter Bilott menjadi sosok yang begitu heroik. Apalagi dalam film ia diceritakan sebagai seorang pengacara yang begitu logis, tapi mendadak terserang gangguan neurotik karena terlalu berpikir keras. Akibat hal itu Bilott lantas terserang stroke ringan meskipun perjuangannya terus berlanjut dan suasana keluarganya kerap tegang.

Saat menonton Dark Waters, banyak orang mungkin akan merasa bosan. Itu karena ia memiliki cerita yang cukup pelik sekaligus membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak ketinggalan fakta dan cerita. Maklumlah, peristiwa dalam rentang puluhan tahun dimampatkan dalam tempo sekitar 2 jam.

Pada akhir cerita, Dark Waters seakan meningkalkan kesan sebagai sebuah drama yang kaya akan amarah terhadap dampak lingkungan dan kesehatan. Kondisi sedemikian mengerikan dapat lolos sekian tahun lamanya akibat hasrat berkuasa suatu korporasi yang pada akhirnya turut membungkam pemangku kepentingan lainnya.

"Kita tidak bisa mengandalkan pemerintah, kita tidak bisa mengandalkan korporat. Kita hanya bisa bertahan dengan mengandalkan diri kita," tutur Bilott dalam salah satu adengan.

Dark Waters pertama kali tayang di Amerika Serikat pada 22 November 2019. Kisah film ini diadaptasi dari sebuah artikel berjudul The Lawyer Who Became DuPont's Worst Nightmare, yang ditulis Nathaniel Rich dan terbit di majalah The New York Times pada 2016. Film ini telah tayang di bioskop Tanah Air sejak 29 November 2019. (M-2)

BERITA TERKAIT