08 December 2019, 04:20 WIB

Radikalisme di Wiratha


Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend

Ebet
 Ebet
Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia

FENOMENA menggiriskan telah terjadi di negeri ini. Aparat sipil negara, bahkan anggota TNI, sudah ada yang terpapar radikalisme. Ini sangat berbahaya bagi eksistensi bangsa dan negara mengingat mereka ialah bagian dari penyelenggara pemerintahan dan penjaga negara.

Menurut buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia (2019), radikalisme dimaknai sebagai suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan ekstrem atas nama agama, baik kekerasan verbal, fisik, maupun pikiran.

Oleh karena itu, radikalisme mesti segera dibasmi sejak dini. Bila tidak, akan menjalar ke mana-mana sehingga akan menghancurkan negara ini. Jangan ada toleransi sekecil apa pun terhadap setiap aksi atau gerakan yang sudah menyentuh garis demarkasi sendi-sendi negara.

Kencakarupa-Rupakenca

Radikalisme pernah terjadi dalam sejarah Negara Wiratha pada zaman Prabu Matswapati dalam cerita wayang. Berkat tindakan tegas dan berani Matswapati lah, Wiratha tetap eksis.  

Alkisah, ketenteraman dan stabilitas Wiratha terusik. Banyak warga yang terpapar virus radikalisme. Mereka menyatakan mosi tidak percaya kepada pimpinan (raja). Gerakannya hari ke hari semakin menggurita dengan target akhir menggulingkan pemerintah yang sah sekaligus mengganti dasar dan konstitusi negara.   

Mudahnya virus radikalisme menyebar ke seantero wilayah karena banyaknya warga yang miskin dan bodoh. Ditambah lagi musim kemarau yang panjang sehingga produksi dan persediaan pangan terbatas. Harga-harga kebutuhan pokok melambung sehingga sulit terjangkau.

Kondisi yang memprihatinkan itu menjadi bak jerami kering sehingga sangat mudah dibakar gerakan apa pun. Mereka menjadi sasaran empuk bagi para aktivis menginjeksikan paham radikal.

Gembong gerakan radikalisme di Wiratha ternyata bukan orang asing. Mereka masih termasuk sentana dalem, malah sedang menjabat panglima perang. Pengkhianat itu bernama Kencakarupa dan Rupakenca.

Keduanya ialah saudara angkat Durgandini, adik kandung Matswapati. Kencakarupa-Rupakenca merupakan jelmaan perahu yang digunakan Durgandini (Lara Amis) ketika menjalani laku prihatin di Sungai Gangga. Perahu itu pecah menjadi dua bagian ketika menabrak karang.

Kencakarupa-Rupakenca menjadi radikal terdorong nafsu ingin menguasai takhta Wiratha. Itu satu-satunya jalan yang mereka tempuh karena tidak ada celah konstitusi untuk mewujudkan ambisi mereka.

Matswapati sebenarnya mengetahui gerakan kedua orang kepercayaannya itu berdasarkan laporan aparat telik sandi yang masih setia kepadanya. Masalahnya, Matswapati merasa kesulitan menegakkan hukum mengingat keduanya terbilang saudara dan tulang punggung pemerintahannya sendiri.

Sementara itu, radikalisme terus menjalar dan berkembang. Semakin banyak aparat negara yang menjadi pendukung radikalisme. Inilah persoalan sangat serius yang dihadapi Matswapati. Selain mengancam kedudukannya, bila gerakan itu tidak diselesakan, juga akan mengobrak-abrik paugeran (konstitusi) negara.     

Matswapati kemudian memanggil Kencakarupa-Rupakenca. Selain ingin tabayun, dan bila itu ternyata benar keduanya sebagai penggeraknya, akan diluruskan dengan cara baik-baik. Bila tidak bisa, sanksi mesti dijatuhkan.

Jagalabilawa unggul

Di luar dugaan, Kencakarupa-Rupakenca terang-terangan mengakui bahwa gerakan radikalime yang merebak di Wiratha merupakan inisiatif sekaligus dipimpin mereka. Menurut keduanya, Wiratha akan kembali tenteram dan rakyat hidup adil makmur bila ada pergantian kepemimpinan.

Matswapati kaget dengan pernyataan blak-blakan Kencakarupa-Rupakenca tersebut. Bukankah keduanya yang semestinya bertanggung jawab terhadap ketenteraman negara, pikirnya. Kenapa orang yang sangat ia percaya justru yang menggerakkan radikalisme.

Dengan berjiwa besar, Matswapati menyatakan tidak masalah bila dirinya harus lengser demi untuk mengembalikan ketenteraman Wiratha. Ia rela menyerahkan kekuasaan, tetapi mesti sesuai dengan konstitusi negara.

Namun, Kencakarupa-Rupakenca menolak pergantian pemimpin dengan cara kuno. Mereka mengharuskan lewat mekanisme lewat adu jago (manusia). Duel antara jagonya Matswapati dan jago Kencakarupa-Rupakenca. Siapa yang jagonya menang, merekalah yang berhak menjadi pemimpin Wiratha.

Sehari sebelum batas hari pertarungan yang disepakati, Matswapati waswas karena belum memiliki jago yang mumpuni. Apalagi, Kencakarupa-Rupakenca telah mengajukan jagonya bernama Rajamala. Selain berbadan tinggi besar, Rajamala dikenal sangat sakti mandraguna.

Beruntung, Raden Seta yang diperintahkan Matswapati (ayahnya) mencari jago, bertemu Dwijakanka, yang sejatinya Puntadewa. Sulung Pandawa yang menyamar sebagai lurah pasar itu menganjurkan Seta agar menemui Jagalabilawa, tukang jagal di Dusun Welakas.

Seta kemudian menemui Jagalabilawa dan memintanya apakah bersedia menjadi jago Wiratha menghadapi Rajalama. Lelaki gagah perkasa yang sejatinya Bratasena itu menyanggupinya. Ia menyatakan rela mati demi tegaknya Wiratha, negara nenek buyutnya sendiri.

Maka, tepat di hari yang telah ditentukan, terjadilah adu kesaktian antara Rajamala dan Jagalabilawa. Pertarungan berlangsung sengit dan menegangkan. Keduanya saling menjatuhkan.

Setelah berlangsung beberapa saat, Jagalabilawa unggul. Dengan senjata kuku pancanaka-nya, Rajamala berulang kali terkapar. Anehnya, Rajamala bisa hidup kembali setelah diceburkan ke dalam sendang. Keajaiban itu terjadi berulang-ulang sehingga Bratasena kewalahan.

Pada situasi kritis itu, Wrahanala, nama samaran Arjuna--adik Bratasena, menimbrung. Ia melepaskan panah sakti ke sendang yang dipakai untuk menghidupkan kembali Rajamala. Dan ketika Rajamala mati lagi dan kemudian diceburkan kembali ke sendang oleh Kencakarupa-Rupakenca, ternyata tidak hidup, jasadnya hancur lebur.

Bertindak tegas

Seketika itu, Kencakarupa dan Rupakenca mengamuk. Keduanya mengeroyok Jagalabilawa. Namun, mereka dapat disirnakan. Dengan matinya otak dan gembong gerakan radikal itu, Wiratha kembali tenteram.

Itulah sepenggal cerita negara Wiratha ketika dirongrong gerakan radikalisme dari dalam. Pihak atau orang-orang yang dipercaya dan seharusnya menjadi pilar negara, yang bertanggung jawab terhadap eksistensi negara, tetapi justru yang menggergaji.

Konteks dengan situasi dan kondisi kebangsaan saat ini, pemerintah mesti tidak perlu ragu bertindak tegas dan keras terhadap siapa pun, apalagi aparat negara, yang telah terpapar virus radikalisme. (M-2)

BERITA TERKAIT