08 December 2019, 02:30 WIB

Diana Da Costa: Ingin Bertemu Andy F Noya


Galih Agus Saputra | WAWANCARA

BARU lulus sarjana pada 2017 dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan langsung menjadi guru pedalam­an di tahun berikutnya tidak membuat Diana Da Costa menyesal. Justru ia merasa bahagia karena dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Perempuan kelahiran Dili itu juga mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. Salah satunya ia merasakan benar bagaimana penghormatan warga desa terhadap sosok guru.

Ibarat raja, guru sangat diperhatikan segala kebutuhannya oleh warga desa.

“Jangan salah, perhatian masyarakat di sana terhadap kami sangat besar sekali. Meskipun katakanlah rumah mereka tidak seperti orang-orang di kota, mereka rela berikan rumah itu kepada guru-guru yang mengajar di sana. Mereka rela kasih rumah ke kita supaya anak-anaknya dididik hingga pintar. Mereka sendiri mengungsi tidur di gubuk,” tutur Diana saat ditemui Minggu (1/12).

Perempuan yang mengajar di SD Kaibusene bersama dua GPDT lainnya, yakni Antonius Tampani dan Inda Rovitha Meyok, itu juga kerap terharu karena warga sering membawakan makanan khusus. “Mereka sering jauh-jauh pergi ke distrik lalu tahu-tahu pulang bawa paha ayam buat kami. Mereka sebutnya ayam kulkas, kalau di sini kemungkinan ayam potong. Itu bayangkan, kita lihat mereka, menetes air mata,” tambahnya.

Sehari-hari warga juga selalu berusaha membantu setiap pekerjaan rumah para guru. Bahkan, warga tidak membiarkan guru menimba air sendiri. Dari semua itu, Diana sadar jika warga benar-benar berharap pada para guru untuk membuat anak-anak mereja maju. Sebab itu, Diana dan rekan-rekannya benar-benar memaksimalkan waktu mengajar. “Makanya, sering kami para guru melupakan tanggal merah di sana. Pokoknya kita hantam terus saja buat belajar,” ujarnya.

Kini, setelah menulis surat terbuka bagi Menteri Pendidikan Kebudayaan Nadiem Makarim, Diana berharap juga dapat berbagi cerita ke satu sosok lainnya. Orang itu ialah host acara Kick Andy yang juga seorang mantan jurnalis, Andy F Noya.

“Saya menggemari dia. Orang-orang seperti Andy, memiliki daya pikir yang cerdas dan selalu punya cara untuk memberikan solusi. Oleh karena itu, saya ingin menceritakan berbagai macam persoalan selama mengajar di Mappi dan berharap dapat mendapat jalan keluar,” tutur Diana.

Ia mengaku selalu meluangkan waktu untuk menonton siaran Kick Andy begitu memiliki kesempatan ke daerah yang sudah terjangkau internet. Memang tinggal di Mappi, Diana tidak memiliki kesempatan untuk menonton karena tidak adanya sambungan listrik. Maka itu, begitu libur dan dapat kesempatan ke kota, ia pun menonton ulang siaran Kick Andy melalui internet. (Gas/M-1)

 

BERITA TERKAIT