07 December 2019, 14:45 WIB

Perempuan Berperan Ikut Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca


Thalatie K. Yani, Laporan dari Spanyol | Internasional

UPAYA penurunan emisi gas rumah kaca tidak hanya peran pemerintah, tapi juga peran perempuan. Apalagi perempuan berisiko tinggi terkena dampak krisis iklim.

Dalam diskusi di Pavilion Indonesia bertajuk Gender and Climate Change, Penasehat Senior Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman untuk Perubahan Iklim Kartini Sjahrir menekankan pentingnya peran perempuan dalam mendorong Peraturan Menteri No 31 tahun 2017 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang LHK.

Kartini menekankan pentingnya peran perempuan dan kearifan lokal.

"Perempuan dan kearifan lokal adalah ibarat koin dengan dua sisi, saling melengkapi dan dan saling berinteraksi. Proses yang inklusif untuk pemberdayaan perempuan dalam penanganan perubahan iklim sangat diperlukan dan harus, utamanya memberdayakan kaum muda khususnya anak laki laki untuk memahami dengan baik tentang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat luas," ujarnya.

Baca juga : Indonesia Harus Ngotot di COP25

Sementara itu, Jumat (6/12) malam aktivis lingkungan muda asal Swedia Greta Turnburg tiba di Madrid dan memimpin demonstrasi dengan berbagai aktivitis lingkungan lainnya.

Dalam jumpa pers sebelum aksi, Greta tidak terlalu berharap banyak dari pertemuan COP25. Sebaliknya, COP26 diharapkan menjadi terdapat tindakan nyata.

"Saya pikir dan saya harap, COP25 membawa sesuatu yang konkret dan membawa serta meningkatkan kesadaran orang secara umum dan pemimpin dunia melakukannya. Tapi sekarang kayaknya tidak begitu. Berusaha sebisa mungkin membawa ini ke permukaan," ujar Greta.

Selama satu tahun terakhir, aktivis berusia 16 tahun itu melakukan gerakan School Strike yang dilakukan setiap hari Jumat. Meski tidak terlalu banyak berdampak, Greta mengaku saat ini orang mulai sadar dan membentuk opini baru akan kesadaran lingkungan. (OL-7)

BERITA TERKAIT