06 December 2019, 20:20 WIB

PT. Jatim Jaya Perkasa Sukses Cegah Karhutla


mediaindonesia.com | Nusantara

Istimewa/KLHK
 Istimewa/KLHK
Upaya penanggulangan kerhutla tidak hanya dilakukan KLHK yang melibatkan berbagai pihak dan juga upaya yang dilakukan perusahaan swasta.  

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mengampanyekan antisipasi penanggulangan kebakaran lahan dan karhutla (karhutla) termasuk juga aksi pencegahan karhutla di lapangan.

Untuk mencegah  dan menanggulangi karhutla, KLH telah menjalin kerja sama dengan stakeholder atau pemangku kepentingan termasuk melibatkan Polri.

Untuk  mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan karhutla, PT. Jatim Jaya Perkasa (JJP) berhasil mencegah kebakaran di lahannya yang berlokasi di Riau selama  2015 -2019.

“Total luas area lahan JJP yang terlindungi dari bencana kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sekitar 8.200 hektare,” jelas Direktur PT Jatim Jaya Perkasa (JJP)  Halim Gozali dalam pers rilisnya kepada media, Jumat (6/12).

Padahal ancaman kebakaran masih saja membayangi daerah Riau dan sekitarnya. Karhutla di Riau terjadi sejak awal 2019 dengan tingkat kebakaran fluktuatif setiap bulannya. Terparah terjadi sejak akhir Juni dan sempat mereda akhir Agustus serta melonjak lagi awal September 2019.

Direktur PT Jatim Jaya Perkasa (JJP)  Halim Gozali  juga mengatakan capaian PT JJP menahan bencana kebakaran itu pun menjadi prestasi tersendiri yang akan terus dipertahankan dan menjadi inspirasi.

“Kami sangat mendukung pemerintah di masa kepemimpinan Presiden Jokowi, yang tidak kenal lelah dan terus menerus mengingatkan kami pihak swasta dengan membuat regulasi sebagai pedoman kami dalam menghadapi serta mengantisipasi sekaligus mengatasi terjadinya karhutla,” ujar Halim.

Dengan mengikuti regulasi yang telah ditetapkan oleh KLHK itulah, maka selama lima tahun berturut turut sejak tahun 2015, PT. JJP berhasil terhindar dari bencana kebakaran hutan dan lahan, tambah Halim Gozali.

“Capaian itu tentu tidak diraih dengan mudah. Menjaga lahan dari kobaran api butuh usaha keras dan kerja sama dengan segenap pihak terkait. Sebab sifat api yang mudah menyebar seiring tiupan angin,” jelas Halim.

Saat puncak musim kebakaran, jelas Halim, tim berjaga selama 24 jam non-stop. Jumlah petugas mencapai 95 orang, dibagi dalam tiga shift.

Masa darurat ini berlangsung hampir sebulan lamanya. "Terus menjaga agar api tidak masuk ke kawasan kebun," kata Halim.

Halim  Gozali menjelaskan, secara umum ada tiga langkah besar untuk mengantisipasi ancaman  karhutla.  

 Pertama, menurut Halim,  monitoring  titik panas (hot spot) yang dilakukan langsung dari lokasi kebun dan juga dilakukan jarak jauh dari kantor pusat di Jakarta.  

“Kedua, ada peringatan dini (early warning) untuk pencegahan dini, yaitu adanya menara api, patroli, sarana dan prasarana (sapras) pemadam kebakaran,” jelas Halim.

“Ketiga,  pembuatan parit pembatas dengan air tersedia di dalamnya dan pembuatan embung (penampung air) di kebun,” paparnya.

Kepala Desa setempat, Mukhlis, mengapresiasi langkah  PT. JJP dalam mencegah kebakaran tersebut. Aksi JJP menjaga api memang tak hanya di kebunnya saja, tapi juga lahan sekitar.

 'Wilayah kami bisa terbebas dari  kebakaran, karena bantuan dari banyak pihak termasuk PT. JJP," ujarnya.

Salah satu kerja sama antisipasi dan pemadaman kebakaran yang dilakukan PT JJP dan pihak terkait adalah di wilayah  Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

 Pada September 2019 lalu, Tim Satgas Karhutla bersama Polri, BPBD, dan PT. Jatim Jaya Perkasa, melakukan pemadaman dan pendinginan di areal  65 hektare lahan gambut masyarakat yang terbakar. (OL-09)

BERITA TERKAIT