07 December 2019, 08:15 WIB

NTT Targetkan Bebas Filariasis Pada 2027


Palce Amalo | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Kegiatan sosialisasi dan Menitoring Evaluasi Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan dan Filariasis,

KEPALA Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) Dominikus Minggu Mere mengatakan target Indonesia bebas filariasis atau kaki gajah pada 2020 belum bisa terwujud di NTT.

Pasalnya sejumlah wilayah endemis filariasis belum bisa melakukan eliminasi total pada tahun tersebut.. Saat ini tercatat 18 dari 22 kabupaten di NTT masih endemis filariasis.

"Rasanya eliminasi filariasis secara nasional pada 2020 belum bisa terwujud. Memperhatikan kondisi dan situasi yang ada, target elimininasi filariasis di NTT pada 2027," katanya kepada wartawan di sela-sela kegiatan 'Sosialisasi dan Menitoring Evaluasi Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan dan Filariasis,' di Kupang, Sabtu (7/12).

Filariasis merupakan penyakit menular bersifat kronis yang disebabkan cacing filaria, yang ditularkan nyamuk. Penyakit ini menimbulkan kecacatan menetap seperti pembesaran tungkai atas dan bawah serta organ genital

Sesuai hasil pemeriksaan sediaan darah yang positif mengandung mikrofilaria di NTT. Endemisitas tertinggi terjadi di Ende sebesar 16.02%.

Baca juga : Belasan Sapi di Kupang Mati Disambar Petir

Pemeriksaan dilakukan terhadap 300 sampel di satu desa dengan kasus filariasis tinggi.Endemisitas tertinggi kedu di Rote Ndao sebeasr 10,54%, Lembata 10%, Manggarai 8,7%, dan Sikka 8,3%.

Sedangkan empat kabupaten dengan endemisitas filariasis nol persen yakni Belu, Sabu Raijua, Kota Kupang, dan Manggarai Barat.

Adapun penderita filariasis kronis di NTT pada Maret 2019 tercatat 1.542 orang yang tersebar di 21 kabupaten dan kota. Hanya Sabu Raijua yang belum dilaporkan temuan penderita filariasis kronis.

Dari ribuan penderita tersebut, terbanyak di Sikka sebanyak 356 orang, Ende 233 orang, Alor 167 orang, Sumba Tengah 159 orang, dan Rote Ndao 126 orang.

Untuk mempercepat pemberantasan filariasis di daerah itu, Dinas Kesehatan NTT bersama pengelola program pemberantasan filariasis. camat, dan petugas puskesmas serta instansi lainnya dari 22 kabupaten dan kota, menggelar pertemuan untuk menyusun road map pencegahan dan penanggulangan filariasis di daerah.

Baca juga : Diminati Masyarakat, BPR Diimbau Gandeng Lembaga Fintech

Menurut Dominikus, para peserta pertemuan sejak lama memiliki kepedulian dalam rangka pencegahan dan pemberantasan filariasis di daerahnya masing-masing.

"Pertemuan ini diharapkan menghasilkan kesepakatan pencegahan dan penanggulangan filariasis," tambahnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung sejak 5-7 Desember itu, antara lain dibahas pemberian obat filariasis yang harus dilakukan secara terus-menerus selama lima tahun, serta obat kecacingan untuk wilayah endemis dua kali dalam setahun untuk anak usia 1-12 tahun.

"Sasaran kita juga anak usia sekolah. Karena itu, dalam pertemuan ini juga dilibatkan dina pendidikan, pemuda dan olahraga (PPO)," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT