06 December 2019, 23:40 WIB

Terus Berinovasi, Cara Collins Bertahan Hingga 200 Tahun


Sri Purwandhari | Ekonomi

COLLINS adalah brand dari peralatan dan perlengkapan tulis-menulis ternama. William Collins merintis usaha stationery tersebut pada 1819.

Usahanya dimulai dari sebuah percetakan kecil di jalan Candleriggs, Glasgow, Skotlandia. Jadi, tahun ini, Collins merayakan usia brand-nya yang ke-200.

Urusan mempertahankan kelanggengan sebuah brand hingga 200 tahun bukanlah usaha yang mudah. Lebih-lebih di era digital dan paperless seperti saat ini.

Namun Chairlady dan Chief Executive Officer Collins Debden, Connie Chan, mengaku perusahaan punya kiat agar Collins bisa tetap menjadi yang terdepan.

"Kami sangat memerhatikan keinginan dan kebutuhan termasuk selera konsumen agar produk kami selalu disukai oleh konsumen kami di seluruh dunia," kata Connie saat media gathering  di Kinokuniya, Plaza Senayan, Jumat (6/12).

Baca juga : Teknologi Blockchain Bisa Tekan Biaya Logistik Perusahaan

Lalu Connie menyebutkan satu dari beberapa kiatnya adalah terus berinovasi dan berevolusi.

"Tak ada batasan dalam berinovasi. Kami melakukannya sejak dulu hingga kini dan terus demikian hingga masa mendatang," lanjutnya ramah.  

"Tidak hanya pada berbagai alat tulis, tapi juga pada buku harian, buku catatan, dan agenda jurnal. Semuanya mendapat sentuhan seni agar membuat pemiliknya  bebas mengekspresikan ide, pikiran, dan jiwa seninya, baik dalam menulis atau menggambar," sambungnya.

Strategi kesuksesan Collins lainnya adalah karena konsumen bisa membuat eksklusif buku harian atau agenda yang dimilikinya.

"Anda bisa meminta cover buku bertuliskan nama Anda. Selain itu, Anda bisa meminta berapa halaman bergaris dan berapa halaman kosong yang bisa dibuat untuk menggambar sehingga buku Anda sangat personal dan eksklusif," papar Connie.

Namun, jika konsumen tak ingin yang eksklusif, produk massal yang dikeluarkan patut diperhitungkan. Pasalnya, Collins secara berkala selalu mengeluarkan seri baru.

Contohnya saat ini ada Clementine yang berisi 192 halaman berbahan kertas Kinmari Japanese premium dan dilengkapi ribbon marker serta expandable inner pocket. Lalu ada seri Diva yang dilengkapi dengan 2 ribbon markers dan covernya dibuat dari suede velvet yang lembut.

Connie optimistis Collins bisa terus tumbuh sebab masih banyak orang yang ingin mengekspresikan perasaannya lewat tulisan dengan cara menulis tangan di buku.

"Pengalaman menulis dengan tangan tidak bisa tergantikan. Begitu pula dengan menggambar di kertas. Ada sentuhan perasaan yang berbeda. Selain itu, ada yang menjadikan menulis sebagai terapi menulis bagi orang-orang tertentu," paparnya.

Saat ini ada 40 toko yang menjual produk Collins di Indonesia, antara lain di Kinokuniya, Periplus, dan Office 2000 di Jakarta dan Surabaya. Selain itu, produk Collins bisa didapatkan melalui platform e-commerse iLotte.

Khusus untuk merayakan kesuksesan 200 tahun Collins yang bersejarah, maka Collins mengadakan lokakarya seni marble pada Sabtu (7/12) di Kinokuniya, Plaza Senayan pukul 13.00-16.00 WIB. Sesi ini akan dipandu langsung oleh seniman Karen Heng, Marbling Artist dari Singapura.
Marbling Art

Karen Heng hanya memerlukan waktu 1 tahun untuk menguasai marbling art. Dia menyebutkan ada tiga macam seni itu, yaitu European style, Japanase style, dan Turkish style.

Baca juga : Kementerian ESDM Dukung Swasta Gunakan Energi Terbaruikan

European style menghasilkan desain lebih abstrak. Caranya mencipratkan beragam warna pada media air berformula khusus.lalu dibentuk polanya sesuai selera.

Japanese style menghasilkan desain yang hampir mirip dengan European style, tapi cara pembuatannya berbeda. Teknik Japanese dibuat dengan cara menuang setetes demi setetes cat air pada satu titip lalu ditiup. Warna yang digunakan hanya dua saja.

Turkish style menghasilkan desain yang naturalis. Misalnya bunga atau daun. Caranya seperti menggambar biasa. Langsung membuat daun atau bunga.

Yang unik dari seni marbling ini adalah formula air sebagai media.

"Cat air tidak menembus, hanya berada di permukaan saja sehingga gambar atau desain langsung bisa diangkat dengan kertas dan kita bisa membuat gambar atau desain yang lain dalam sekejap," kata Karen.

 

BERITA TERKAIT