06 December 2019, 22:06 WIB

Begini Cerita Awak Kabin Garuda Soal Pramugari di Era Ari Ashkara


Thomas Harming Suwarta | Ekonomi

USAI diberhentikannya I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra atau Ari Ashkara dari posisi Direktur Utama Garuda Indonesia, muncul banyak cerita terutama dari Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) terkait gaya Ari dalam memimpin.

Salah satu yang diceritakan IKAGI misalnya kebijakan Ari dalam menempatkan pramugari di penerbangan kelas bisnis.

Menurut Sekretaris jenderal IKAGI Jacqueline Tuwanakotta, Ari Askhara kerap memberikan perlakuan khusus untuk pramugari di kelas bisnis yang menurutnya asal muda dan cantik tidak peduli kapasitas.

"Dan memang pernah kejadian karena kebijakan ini ada pramugari di kelas bisnis bahasa Inggrisnya keliru saat penerbangan Jakarta-Sydney dan penumpangnya komplain," kata Jacqueline Tuwanakotta dalam perbincangan dengan Media Indonesia di Jakarta, Jumat (6/12).

Kejadian bahasa Inggris yang keliru ini kata Jacqueline menjadi perbincangan di antara awak kabin dan sangat memalukan.

Baca juga : Awak Kabin Garuda Bongkar Gaya Kepemimpinan Ari Ashkara

"Jadi kejadiannya saat penumpang di kelas bisnis meminta selimut kepada awak kabin kami, lalu setelah diambilkan, niatnya awak kabin tersebut untuk mengucapkan Selamat Tidur begitu yang harusnya Have a nice sleep tetapi yang keluar jadinya Rest in Peace. Dan penumpangnya kaget bukan main dan memilih untuk tidak jadi tidur. Ini mungkin buat masyarakat heran kok bisa begini parahnya, ya itu kejadian. Kalau ikut kebijakan beliau kan yang penting muda dan cantik," papar Jacqueline.

Terkait pramugari menurut Jacqueline yang sudah 23 tahun menjadi pramugari di Garuda Indonesia, Ari menerapkan kebijakan yang tak manusiawi dari sisi jam kerja karena ada perubahan rute terutama untuk penerbangan internasional.

"Kalau dulu penerbangan yang memakan waktu 7 jam itu kita ada kebijakan menginap. Sementara sekarang karena harus pergi pulang jadi awak kabin yang bertugas harus bekerja selama kurang lebih 16 jam nonstop, karena begitu tiba, paling istirahat sekitar 1 jam lalu terbang lagi balik Indonesia. Ini tentu tidak manusiawi dan sudah ada kejadian kawan-kawan kita jatuh sakit karena jam kerja yang tidak normal ini," ungkap Jacqueline.

Bukan hanya itu sikap Ari yang dinilai diskriminatif terhadap pramugari sangat tidak manusiawi.

"Jadi beliau itu kalau di pesawat di depan banyak orang misalnya pramugarinya agak gemuk atau sudah senior lalu dengan arogannya bilang 'kamu koq gemuk dan tua' yang disampaikan di depan banyak orang. Memang esoknya pramugari tersebut tidak terbang lagi. Padahal hal-hal tersebut bisa disampaikan dengan baik dan masuk dalam rangka pembinaan," kata Jacqueline.

Ia berharap agar niat pembenahan yang dilakukan oleh Menteri BUMN Erick Tohir bisa dilakukan secara total sampai garuda benar-benar dijalankan secara profesional.

"Kami dukung semua upaya baik Pak Erick, tetapi jangan hanya di permukaannya saja. Ibarat rumah, jika sudah mulai diberishkan dari atap atau ruang tamu maka harus juga masuk sampai ke dapur dan toilet semuanya harus bersih. Itu kami dukung penuh," pungkas Jacqueline. (OL-7)

BERITA TERKAIT