06 December 2019, 22:03 WIB

KPK Sebut Ada Suap Rp100 Miliar Mengalir ke Petinggi Garuda


Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum

MI/ Susanto
 MI/ Susanto
Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (4/12)

KOMISI Pemberantasan Korupsi menemukan aliran dana dalam kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk bertambah besar. KPK meyakini aliran dana yang awalnya diduga hanya Rp20 miliar kini bertambah menjadi Rp100 miliar.

"Setelah kami cek ada puluhan rekening yang totalnya kurang lebih Rp100 miliar. Aliran dana itu termasuk kepada tersangka yang sudah ditetapkan saat ini," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/12).

Saat ini, ada tiga tersangka dalam kasus tersebut yakni mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar, beneficial owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo dan mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno.

Febri melanjutkan, penyidik juga menduga aliran dana itu mengucur kepada sejumlah pejabat Garuda Indonesia lainnya. Salah satunya kepada Hadinoto. Ia diduga menerima suap melalui Soetikno senilai US$2,3 juta dan 477 ribu Euro melalui rekening di Singapura.

KPK kini telah merampungkan penyidikan untuk tersangka Emirsyah dan Soetikno. Kedua tersangka dan barang bukti telah dilakukan pelimpahan tahap dua dan segera disidangkan. Komisi berjanji bakal menguraikan aliran dana Rp100 miliar tersebut di persidangan.

"Terkait pembuktian akan kami uraikan dari dakwaan. Jadi bukan pada satu orang (Emirsyah Satar) penerimaan uangnya, tapi juga pada beberapa pejabat di Garuda Indonesia saat itu. Ada penggunaan rekening dengan nama lain di beberapa negara," imbuh Febri.

Penanganan perkara itu memakan waktu hampir tiga tahun terhitung sejak KPK menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik) pada 16 Januari 2017. Dalam kasus itu, Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno berwujud uang dan barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

KPK kala itu menduga Emirsyah menerima uang dari Seotikno senilai 1,2 juta Euro dan US$180 ribu (totalnya setara Rp20 miliar). Kemudian ada penerimaan lain dalam bentuk barang. Suap itu diduga berkaitan dengan pengadaan mesin untuk pesawat Airbus yang dipesan untuk Garuda Indonesia melalui perantara Connaught International.

Selama proses penyidikan, KPK mengidentifikasi ada kontrak bernilai miliaran dollar Amerika yang ditandatangani oleh Garuda Indonesia. Antara lain kontrak pembelian mesin dan perawatan mesin (total care program) Trent seri 700 dengan perusahaan Rolls Royce dan kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus SAS.

Kemudian, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR), dan kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft. Sejumlah kontrak tersebut dalam prosesnya diduga terdapat aliran suap. (OL-8)

BERITA TERKAIT