07 December 2019, 04:50 WIB

Menghabiskan Malam di Kawasan Malate


(Beo/R-2) | Olahraga

MI/BUDI ERNANTO
 MI/BUDI ERNANTO
Sejumlah restoran dan bar di kawasan Malate, Manila, Filipina, Kamis (5/12). Malate menjadi salah satu tempat hiburan malam  

SETIAP kota pasti memiliki sisi gelap, tidak terkecuali Manila, Filipina. Dari keterangan sejumlah warga setempat, sebuah kawasan bernama Malate disebut-sebut menjadi salah satu red light district atau red area, tempat bisnis seputar seks berpusat di Manila.

Malate yang kini penuh dengan bar, tempat karaoke, spa, restoran, kasino, dan kerap dikunjungi para turis asal Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang. Saat Media Indonesia mengunjungi Malate, Kamis (5/12) malam, juga tampak beberapa turis dari Eropa.

Restoran yang ada rata-rata menawarkan sajian khas Jepang dan Tiongkok. Ronald, salah satu karyawan sebuah bar di Malate, mengatakan, jika datang ke tempat karaoke atau bar, siap-siap untuk mengeluarkan uang sebesar 300-500 peso Filipina atau kurang lebih Rp90 ribu-Rp150 ribu.

Itu merupakan ongkos masuk dan dihitung per kepala. Rata-rata ongkos masuk itu sudah bisa menenggak minuman apa pun sepuasnya. Namun, itu hanya untuk sekitar 2-3 jam.

Jika ingin 'ditemani', ada tarifnya lagi yang kurang lebih sama seperti ongkos masuk. Tidak cukup sampai di situ, keluarkan lagi uang untuk minuman atau makanan yang dipesan oleh orang yang menemani tadi. Masih ada biaya lain yang harus dibayar untuk jenis jasa tertentu.

"Untuk tamu yang ingin ditemani di hotel juga bisa. Tarifnya 2.500 peso Filipina (Rp750 ribu)," kata Ronald.

Namun, lanjut Ronald, harga-harga itu masih bisa ditawar. Ronald yang asli dari luar Pulau Luzon mengatakan berapa yang harus dibayar bisa didiskusikan sejak awal. "Namun, biasanya kan akhir tahun, banyak turis datang, akan sangat susah minta harga murah," kata Ronald.

Jess, karyawan yang biasa menemani para tamu di bar tempat Ronald bekerja, mengaku beberapa kali diminta ikut ke hotel oleh tamu-tamunya. Berapa yang dia pungut sesuai dengan yang disampaikan Ronald. "Kalau tidak ada yang ajak, hanya di bar. Hanya dapat 200 peso Filipina (Rp60 ribu) per hari," kata dia.

Tidak hanya kental dengan hiburan malam, Malate sempat dikenal sebagai ibu kota homoseksual di Filipina. Selepas kepemimpinan Ferdinand Marcos pada penghujung 1990-an, gemerlap Malate berangsur redup. Namun, geliatnya tetap ada hingga pagi menjelang. (Beo/R-2)

BERITA TERKAIT