06 December 2019, 15:49 WIB

KPK Panggil Lagi Politikus Golkar Melchias Mekeng


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
 ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Anggota DPR dari Fraksi Golkar Melchias Marcus Mekeng berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Senin (24/6).

KOMISI Pemberantasan Korupsi ( KPK) kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Melchias Marcus Mekeng.

Mekeng rencananya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap terkait terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SMT (Samin Tan, pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (6/12).

Pemanggilan terhadap Mekeng ini tercatat merupakan yang kelima kalinya. Dalam pemanggilan-pemanggilan sebelumnya, Mekeng absen lantaran berada di luar negeri maupun alasan kesehatan. 

Baca juga: Mundurnya Bamsoet Hindari Perpecahan di Tubuh Golkar

Sebelumnya, KPK juga telah meminta pihak imigrasi mecegah Mekeng ke luar negeri selama 6 bulan ke depan terhitung sejak Selasa 10 September 2019.

Samin Tan dan kolega Mekeng di Partai Golkar Eni Saragih saat ini berstatus tersangka dalam kasus pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT Asmin Koalindo Tuhup (PT AKT) di Kementerian ESDM. KPK menduga Mekeng mengetahui sejumlah hal berkenaan dengan kasus tersebut.

Dalam kasus itu, Samin diduga memberi hadiah atau janji kepada Eni terkait kongkalikong pengurusan terminasi kontrak pertambangan tersebut. Pada Oktober 2017, Kementerian ESDM melakukan terminasi atas PKP2B PT AKT. Adapun PT BLEM milik Samin Tan diduga telah mengakuisisi PT AKT sebelum terminasi tersebut.

Dalam upaya menyelesaikan persoalan terminasi perjanjian karya itu, Samin diduga meminta bantuan kepada Eni Saragih. Eni yang saat itu merupakan anggota Komisi VII DPR menyanggupi permintaan Samin, dan diduga memengaruhi pihak Kementerian ESDM. Sebagai imbalan, Eni diduga meminta sejumlah uang kepada Samin.

Pada Juni 2018, diduga telah terjadi pemberian uang dari Samin melalui stafnya kepada tenaga ahli Eni sebanyak 2 kali yang berjumlah Rp5 miliar. (A-4)

BERITA TERKAIT