06 December 2019, 10:30 WIB

Polisi Prancis Bubarkan Para Demonstran


Fajar Nugraha | Internasional

AFP/Alain JOCARD
 AFP/Alain JOCARD
Aksi demonstrasi di Paris, Prancis

KEPOLISIAN Paris, Prancis menembakkan gas air mata ke arah demonstran, Kamis (5/12), ketika Menara Eiffel ditutup. Mereka berupaya membubarkan mogok nasional yang dilakukan berbagai elemen masyarakat.

Akibat aksi mogok itu, layanan kereta api berkecepatan tinggi Prancis terhenti dan ratusan ribu orang turun ke jalan menentang rencana pemerintah untuk merombak sistem pensiun.

Setidaknya 90 orang ditangkap di Paris, Kamis (5/12) malam, saat protes berakhir.

Polisi mengatakan 65 ribu orang turun ke jalan-jalan di ibu kota Prancis dan lebih dari 800 ribu melakukan demonstrasi di seluruh penjuru Negeri Fesyen itu.

Protes yang kerap berujung menegangkan itu bertujuan memaksa Presiden Emmanuel Macron meninggalkan rencana reformasi pensiun.

Baca juga: Mogok Massal di Prancis akibat Perubahan Pensiun

Pemogokan terbuka oleh serikat pekerja di negara itu merupakan tantangan terbesar bagi Macron sejak gerakan rompi kuning melawan ketimpangan ekonomi meletus setahun yang lalu.

Lawan politik mengkhawatirkan perubahan bagaimana dan kapan pekerja bisa pensiun.

Mereka menilai perubahan itu akan mengancam cara hidup orang Prancis yang berjuang keras. Macron sendiri tetap "tenang dan bertekad" mendorong perubahan itu.

Di Paris, sekelompok kecil aktivis bertopeng menghancurkan jendela toko, membakar dan melemparkan suar di sela-sela pawai yang dinyatakan damai.

Demonstran juga menembakkan petasan ke polisi dengan baju besi tubuh. Beberapa wartawan dirampok di jalan.

Sementara Museum Louvre menutup beberapa galeri dan Istana Versailles ditutup.

Stasiun kereta bawah tanah di Paris menutup gerbang mereka, kereta TGV berkecepatan tinggi membatalkan lintasannya, dan hampir 20% penerbangan di Bandara Orly Paris dilaporkan macet.

Banyak pengunjung, termasuk Menteri Energi AS, membatalkan rencana melakukan perjalanan ke salah satu tujuan wisata paling populer di dunia.

Beberapa pelancong menunjukkan dukungan untuk para pekerja yang mogok. Yang lain mengeluh karena terlibat dalam perkelahian orang lain.

"Saya tidak tahu tentang pemogokan yang terjadi dan saya menunggu dua jam di bandara untuk kereta tiba, dan itu tidak tiba," kata wisatawan Ian Crossen, dari New York, seperti dikutip AFP, Jumat (6/12).

“Saya merasa sedikit frustrasi. Dan saya sudah menghabiskan banyak uang. Rupanya saya sudah menghabiskan uang percuma," jelasnya.

Di bawah Menara Eiffel, wisatawan dari Thailand, Kanada, dan Spanyol menggemakan sentimen-sentimen itu.

Pemerintah Paris membarikade istana kepresidenan dan mengerahkan 6.000 petugas polisi. Polisi memerintahkan semua bisnis, kafe, dan restoran di daerah itu untuk menutup dan menahan 71 orang sebelum demonstrasi dimulai.

Pihak berwenang melarang protes di lingkungan yang lebih sensitif di sekitar jalan Champs-Elysees, Istana Presiden, Parlemen dan Katedral Notre Dame. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT