06 December 2019, 01:08 WIB

Talenta Digital di Indonesia Masih Sulit Dicari


Hilda Julaika | Ekonomi

TALENTA digital di Indonesia untuk mengisi posisi pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi digital masih sulit dicari di Indonesia.

Padahal, menurut VP Data Science Gojek Indonesia Syafri Bahar, tenaga kerja dengan skill digital sangat dibutuhkan untuk pengembangan ekonomi digital. Diperkirakan pada 2030 mendatang Indonesia membutuhkan 17 juta talenta digital

"Memang butuh waktu buat pick up. Jadi dari sisi susah atau gaknya jadi masalah umum. Kita memang lagi susah buat cari misalnya untuk posisi Data Science," ujarnya seusai acara The Jakarta Post Outlook: Innovating Talents for The Digital Economy, Kamis, (5/12).

Sementara itu, tantangan ke depan untuk kebutuhan talenta digital akan semakin besar. Tantangan terbesar, menurut Syafri ialah mencari titik temu antara kebutuhan industri dengan talenta digital yang kini tersedia.

Baca juga : Dipimpin Intudo Ventures, Populix Raih Pendanaan 1 Juta Dollar AS

"Agak susah juga dihitung secara kuantitas sekarang. Yang jelas faktanya salah satu indikatornya kaya tadi buat filling positionnya itu susah. Tapi yang pasti sekarang shortage of supply lah. Lebih tepatnya supply yang match dengan yang dibutuhkan di industri masih jadi tantangan," jelasnya.

Menurutnya, untuk dapat memenuhi kebutuhan talenta tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan harus ada penyesuaian antara program pemerintah dan kebutuhan industri.

Selain itu, masyarakat pun sudah harus bisa memprediksi pekerjaan seperti apa yang dibutuhkan di masa depan.

'Koordinasi antara peemeintah dan industri itu penting banget. Dan sudah searah dengan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar dijalankan secara pararel. Karena butuh waktu bertahun-tahun. Jadi dalam beberapa tahun itu tugas untuk harus bisa memprediksi talenta yang kira-kira beberapa tahun ke depan seperti apa. Jadi kita bisa siapkan dari sekarang," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT