06 December 2019, 06:50 WIB

Harus Rela Macet demi Trotoar


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

KEPALA Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho meminta kerelaan warga untuk bermacet-macetan di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Pasalnya, kawasan itu sedang ada revitalisasi trotoar.

"Otomatis (warga harus rela). Tapi, setelah itu Januari (2020) kan sudah enak. Nanti bisa dilihat perkembangannya yang dulunya sempit. Di Kodam itu, dulunya sempit sekarang lebar. Kita dapat 4 meter di Kodam," jelas Hari di Gedung DPRD DKI, Jakarta, kemarin.

Revitalisasi trotoar di kawasan Kemang itu akan selesai akhir Desember. Lalu, Hari menampik bahwa revitalisasi itu malah membuat kawasan semakin macet.

"Trotoar di Kemang kalau bikin macet, sebelum dibikin pun sudah macet. Kalau tambah macet, ya cuma sekadar. Yang penting kalau nanti sudah selesai, otomatis lancar. Namanya (pembangunan) infrastruktur, enggak ada yang enggak bikin macet," tutur Hari.

Ketua Komisi D DPRD DKI dari Fraksi PDI Perjuangan Ida Mahmudah menilai perencanaan revitalisasi itu kurang matang sehingga masih terjadi bongkar pasang trotoar. "Kemarin hasil pandangan fraksi, kan itu juga menjadi sorotan. Seharusnya gubernur menindaklanjuti pandangan umum fraksi yang sudah disampaikan. Kan banyak tuh beberapa fraksi yang memang tidak setuju adanya konsep," terang Ida.

"Konsepnya juga ternyata belum matang bahwa itu akan dibuat PKL dan lain sebagainya. Ini saya berharap gubernur maupun dinas melihat itu. Jangankan suara kami, suara fraksi saja tidak didengarkan," tandasnya.

Dinas Perhubungan DKI Syafrin Liputo mengungkapkan pihaknya menutup putar balik atau u-turn di bawah kolong fly over Kuningan atau tepatnya di Jalan Prof Dr Satrio, Jaksel, karena imbas kemacetan yang terjadi di kawasan itu.

Syafrin menegaskan rekayasa lalu lintas dilakukan untuk mengurai kemacetan karena ada pembangunan trotoar yang mencapai ujung Jalan Prof Dr Satrio. "Pembangunan itu mempersempit jalan dan menutup lay bay yang biasa digunakan MiktroTrans. Akibatnya tiap sore selalu ada 'blocking' parah di situ. Sehingga kita putuskan tutup U-turn," kata Syafrin.

Kemacetan akibat pembangunan trotoar tersebut menurutnya sangat parah di sore hari. Kemacetan bisa mengular sampai Jalan Jenderal Sudirman.

Sementara itu, untuk putar balik yang berfungsi ialah yang di kawasan Karet tepatnya di depan City Walk Sudirman. "Nanti kita tempatkan petugas Dishub di situ untuk mengatur lalin," tegasnya.

 

Complete street

Hari Nugroho mengungkapkan ada enam ruas jalan yang akan dibuat trotoar berkonsep complete street. Anggaran yang digelontorkan Rp349 miliar.

"Complete street itu adalah pembagian ruas jalan secara lengkap. Jadi ada main roadnya, kemudian trotoarnya. Trotoarnya itu dibagi lagi; ada pejalan kaki, sepeda, mainhall utilitas, ada bangku taman, ada lampu PJU (penerangan jalan umum)," jelas Hari.

Adapun enam ruas trotoar berkonsep complete street berada di Jalan MT Hariyono, Gatot Subroto, HR Rasuna Said, Casablanca, Pramuka, dan KH Hasyim Asari. Keenam ruas jalan itu dinilai cukup strategis seperti Jalan Thamrin-Sudirman.

"Seperti di jalan arteri, itu trotoarnya bisa sampai 5,5 meter. Berbeda dengan perluasan trotoar biasa yang hanya dibuat sepanjang 1,5 meter hingga 3 meter," terang Hari.

Ia menambahkan, "Nanti kan begitu trotoar udah selesai, ada aturan mainnya baru diterapkan. PKL segala macamnya itu ada mekanismenya. Harus ada kolaborasi antara Satpol PP, Dinas Perhubungan, Bina Marga, dan Dinas UKM terkait pembinaan PKL itu," pungkasnya. (J-1)

BERITA TERKAIT