05 December 2019, 19:13 WIB

Ini Potensi Penghematan dari Green Building di Jakarta-Bandung


Henri Siagian | Humaniora

KEBIJAKAN bangunan ramah lingkungan (green building) di Jakarta dan Bandung per Juni 2019 telah memberi sejumlah dampak.

Berdasarkan laporan International Finance Corporation (IFC) yang diterima mediaindonesia.com, Kamis (5/12), kebijakan di dua kota di Indonesia itu telah menurunkan emisi karbon dioksida (CO) lebih dari 1 juta metrik ton, menghemat penggunaan listrik sekitar 1,5 juta MWh. Selain itu, biaya energi yang berhasil dihemat mencapai lebih dari US$120 juta.

IFC yang merupakan lembaga saudara dari Bank Dunia dan anggota Kelompok Bank Dunia itu telah mendukung Jakarta, Bandung, Semarang, dan Kementerian PUPR dalam program Green Buildings bekerja sama dengan Switzerland's State Secretariat for Economic Affairs (SECO).

Berdasarkan laporan IFC, sudah terlihat dampak positif bangunan ramah lingkungan di Jakarta dan Bandung.

Di Jakarta sudah terdapat 389 bangunan ramah lingkungan seluas sekitar 25 juta meter persegi yang memunculkan potensi pengurangan emisi karbon 1,079 juta metrik ton emisi karbon, potensi penghematan energi hingga 1,3 juta MWh, dengan nilai penghematan energi hingga US$117,1 juta.

Adaoun di Bandung, terdapat 5.615 bangunan ramah lingkungan seluas sekitar 1,42 juta meter persegi dengan potensi pengurangan emisi karbon 57.440 metrik ton emisi karbon, potensi penghematan energi hingga 68.381 juta MWh, dengan nilai penghematan energi hingga US$7,5 juta.

Terdapat sejumlah perkantoran, apartemen, perumahan, hotel, dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang menjadi contoh program green building. Seperti, Rusunawa Daan Mogot untuk tower 1-7.

Untuk tower 3-7, rusunawa itu telah berhasil mengurangi 32% penggunaan energi dari pengurangan rasio jendela dengan dinding, penggunaan ventilasi alami, dan sistem pencahayaan hemat energi.

Lalu, penggunaan air telah hemat 33% akrena penggunaan keran air aliran rendah dan kloset dual-flush. Selain itu, mengurangi 50% energi yang terkandung dalam bahan dengan menggunakan panel beton pracetak.

Director of Climate Business IFC Alzbeta Klein menjelaskan, laporan IFC itu juga menyimpulkan kawasan Asia-Pasifik adalah daerah yang sangat menjanjikan untuk investasi. Karena, kawasan itu akan dihuni oleh setengah dari populasi perkotaan dunia pada 2030.

Di kawasan ini diperkirakan akan terbentuk peluang investasi senilai $17,8 triliun yang sebagian besar terdiri dari bangunan hunian atau residensial.

"Luas lantai gedung-gedung yang dibangun di perkotaan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat sampai dengan 2060," ungkap Alzbeta.

Sebagian besar dari lompatan jumlah konstruksi, sambung dia, akan terjadi di pasar negara berkembang, khususnya di negara-negara berpenghasilan menengah (middle income) yang mengalami pertumbuhan populasi yang tinggi.

"Faktor lainnya adalah, urbanisasi yang pesat, serta pertumbuhan pendapatan. Konstruksi yang ramah lingkungan merupakan salah satu peluang investasi terbesar pada dekade mendatang yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi rendah karbon dan menciptakan tenaga kerja berketerampilan untuk dekade-dekade selanjutnya."

Menurut laporan IFC, di pasar negara berkembang saja, bangunan ramah lingkungan akan membuka peluang investasi senilai $24,7 triliun. Hal tersebut akan memacu pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan berkelanjutan.

Dengan proyeksi 80 juta orang akan memasuki kelas menengah di Asia dalam beberapa tahun ke depan, permintaan akan hunian akan terus meningkat. Di India, misalnya, dibutuhkan sekitar 60 juta unit hunian baru antara 2018 dan 2022.

Wakil Presiden IFC untuk Asia dan Pasifik Nena Stoiljkovic mengatakan, dengan urbanisasi yang pesat, pertumbuhan populasi dan peningkatan pendapatan, Asia membutuhkan solusi pembangunan yang lebih berkelanjutan untuk mengatasi kebutuhan infrastruktur yang mendesak serta tantangan perubahan iklim.

Pemerintah, jelas dia, akan mendapatkan keuntungan finansial dari transisi ke konstruksi ramah lingkungan. Peralihan tersebut juga akan membantu pemerintah untuk memenuhi tujuan-tujuan sosial dan lingkungannya.

Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia dan Timor Leste Azam Khan mengatakan, dalam investasi di bangunan ramah lingkungan yang menghemat penggunaan energi dan air terdapat peluang bisnis yang menguntungkan bagi sektor swasta, lembaga pembiayaan, juga pemerintah.

Berdasarkan laporan IFC, bangunan ramah lingkungan dapat menghasilkan keuntungan penjualan yang jauh lebih tinggi – hingga 31% lebih besar – dan laku terjual lebih cepat dibandingkan dengan bangunan konvensional.

Selain itu, tingkat huniannya juga lebih tinggi – hingga 23% di atas bangunan konvensional, serta menawarkan pendapatan sewa yang lebih tinggi. Karena konsumsi air dan listriknya lebih sedikit, biaya operasional bangunan gedung hijau lebih rendah hingga 37% dibandingkan dengan bangunan konvensional.

Jika fitur-fitur ramah lingkungan disertakan dari tahap awal perancangan, bangunan ramah lingkungan dapat menghemat biaya konstruksi antara 0,5% hingga 12%. (X-15)

Baca juga: Penghargaan Konservasi Air

Baca juga: Gedung Perpustakaan Nasional Indonesia Tertinggi di Dunia

 


 

BERITA TERKAIT