05 December 2019, 07:00 WIB

Stephany Josephine Agnes (Teppy) Mengulas Film dengan Jenaka


FATHURROZAK | Weekend

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Stephany Josephine Agnes  (Teppy) Mengulas Film dengan Jenaka

Meski saat ini orang mungkin lebih mengenalnya sebagai pengulas film, ia sebenarnya tidak berfokus pada sinema saja.

"JEK!" panggil seorang perempuan bersetelan hitam-hitam setiba saya di kawasan M Bloc Space, jelang tengah hari nan terik. Setelah bertukar sapa, kami berkeliling sejenak di kawasan yang tengah hit di kalangan anak nongkrong Jakarta ini dan kemudian 'berteduh' di salah satu kafenya.

Perempuan yang saya temui ini ialah Stephany Josephine. Teppy, sapaan akrabnya.

Dalam satu-dua tahun terakhir, orang-orang mungkin lebih mengenalnya sebagai pengulas film gegara salah satu subtopik di blognya, The Freaky Teppy, yaitu Movie Review Suka-Suka. Salah satu ulasannya yang sempat viral di dunia maya ialah ulasan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2 pada 2017. Bukan semata karena film AAC 2 yang fenonemal--menghimpun kurang lebih 2,8 juta penonton di tahun itu--melainkan karena gaya ulasan Teppy yang mahakocak. Tidak ada, atau belum ada, istilah-istilah teknis yang rumit, atau teori-teori sosial dan moral. Yang ada ialah serangkaian lelucon dan meme, menjadikan pembaca ulasannya terkikik-kikik sepanjang membaca.

Berangkat dari situ, banyak orang kemudian menjadi fan ulasan film ala Teppy, yang belakangan didapuk sebagai host Teppy-O-Meter di Narasi TV untuk konten serupa.

Perempuan kelahiran Banjarmasin itu mulai menulis ulasan film pada 2012. Film Perahu Kertas ialah ulasan perdananya, berlanjut dengan film James Bond: Skyfall. "Ini berangkatnya dari aku dan teman-temanku yang senang candaan. Sepertinya sayang kalau celetukan-celetukan di obrolan kami itu jadi bahan candaan saja. Akhirnya, aku pindahin ke medium tulisan di blog dan di-link ke Twitter. Entah kenapa attraction-nya lumayan tinggi saat itu," kenang Teppy membuka obrolan dengan Media Indonesia, Senin (25/11).

"Sebenarnya aku tuh kayak menceritakan ulang filmnya, bukan menceritakan bagus atau tidaknya film itu," sambungnya.

Meski begitu, persiapan yang ia lakukan cukup memakan waktu. Itu karena butuh uusaha kreatif yang cukup peka untuk menyajikan tulisan yang terkesan ringan, tapi menghibur. Teppy kerap membubuhkan meme atau candaan dalam selipan tulisan ulasannya.

"Tulisan aku benar-benar struktur story telling yang agak njelimet karena menggunakan meme, screen capture."

Bahkan, untuk mendapatkan meme-meme yang pas, Teppy mengaku rajin mengumpulkannya saban hari. Hanya untuk menyeleksi meme mana yang akan ia pakai, bisa satu minggu sendiri. "Selama ngumpulin meme, aku juga nyicil punchline."

Karena itu, perempuan yang mengenal blogging sejak 2007 ini tidak ingin memaksakan untuk menulis ulasan atas film yang baru keluar. Terlebih, ia kini juga lebih intens untuk membahas rekomendasi dan ulasan film lewat program audio visualnya, Teppy-O-Meter.

Tulisan di blognya untuk sub Movie Review Suka-Suka ialah Suzanna Bernapas dalam Kubur, yakni tahun lalu. Meski Teppy berfokus pada Teppy-O-Meternya, ia menuturkan juga tetap mengeluarkan bentuk tulisannya sebagai pelengkap, meski tidak sepanjang bila ia menulis Movie Review Suka-Suka.

Sejauh ini, menurutnya, ia tidak berfokus pada kritik film. Dalam setiap ulasannya, ia bersandar dan menempatkan diri sebagai komentator, sebagaimana ia lakukan terhadap film AAC 2 yang ia akui sebagai satu titik balik.

"Komen saja, berangkatnya dari komentator. Makanya bisa dibilang kejeblos sebenarnya di sini. Bukan sengaja bikin resensi. Review meledak di akhir 2017 dan enggak menyangka akan jadi pekerjaan yang cukup tetap," tuturnya.

Di waktu lalu, aspek film yang biasanya selalu mejadi perhatian utama Teppy ialah logika cerita. Namun, kini profesinya sebagai host Teppy-O-Meter menuntutnya untuk fasih membahas film dari berbagai aspek. Teppy pun kini semakin belajar untuk mengutarakan pandangannya terhadap segi lain yang ada di sinema, selain penceritaan.

"Harus belajar, baca, dan nonton lebih banyak lagi untuk bisa lebih pede bilang sebagai movie reviewer beneran. Selama ini kan mungkin aku mewakili orang-orang yang enggak paham teknis. Tapi mau sampai kapan berpayung di situ? Jadi ya belajar lebih banyak lagi. Jadi ketika orang-orang bilang aku sebagai movie reviewer bisa aku amini."

Lifestyle

Ngeblog sudah lebih dari sedekade, format tulisan pun berubah. Pada awal-awal, tulisan-tulisan Teppy lebih berciri seperti jurnal, yang menceritakan keseharian. Saat ini, ia berpayung pada lifestyle blogger. "Ketika mulai kerja, dari traveling yang aku lakukan kemudian ditulis. Dulu ya nulis tentang hotel, destinasi. Sampai sekarang juga masih nulis traveling dan coffee shop karena memang tidak ada niatan sekalipun jadi movie reviewer. Kalau orang kenal aku di bidang film, ya tidak apa-apa, bagus. Namun, aku ingin eksplorasi di bidang yang lain juga. Secara kesempatan karier juga bisa dikawinkan semuanya."

Teppy pun mengaku dari tiga segmen gaya hidup yang menjadi fokusnya, travelling, coffee shop, dan ulasan film berjalan seiringan. Kesemuanya bermuara pada tawaran pekerjaan untuknya. Dari ketiganya, ia pun menulis berdasar pada minat yang ia sukai.

"Enggak pernah mikirin bahwa dunia travel blogging lebih ramai atau lebih 'basah'. Nulis film juga demikian, menjalani apa yang aku suka. Kalau mau mulai mengulas film, ya mulai saja. Nanti juga akan ketemu dengan audiensinya."

Bagi Teppy, blognya kini bisa dijadikan sebagai penyokong. Ia mengakui memang tidak sepenuhnya berfokus pada blog, tetapi juga tidak mau meninggalkannya. "Blog nyokong personal branding gue. Tidak sepenuhnya gue tinggalin, juga tidak sepenuhnya gue fokusin. Sifatnya pendamping saja. Gue paling suka kalau dianggap sebagai orang yang resourcefull."

Dari tulisan-tulisan di blognya, kini Teppy memiliki dua buku yang terbit pada 2013 dan 2019. "Cerita pendek yang disadur dari blog gue. Kalau yang kedua, formatnya tanya jawab, cuma tetap sama pengalaman yang dibagi. Kalau ada kesempatan, gue iyain saja. Dulu gue mimpi bisa ngeluarin buku. Cuma memang enggak ngoyo, gara-gara ulasan film pertama keluar, temen gue bilang kenapa enggak sekalian bikin buku saja?"

Buku keduanya pun juga gara-gara tulisan di blog, tepatnya kepopuleran ulasan Ayat-Ayat Cinta 2-nya. Penerbit pun mendekati Teppy untuk kembali menelurkan buku. "Dan sekarang tuh penerbit sudah jemput bola. Apakah dengan ini bisa jadi penghasilan? Bisa. Hanya, buat gue ini sebagai portofolio."

Ia menambahkan, ketika ingin memulai ngeblog, hal yang terpenting ialah yang menjadi kesukaan dan tujuan dari seseorang tersebut menulis di blog. Seperti dirinya dulu.

"Gue dulu berangkat dari interest saja, ketika nanti takdir, lo akan ketemu di tengah, ketemu audiensi dan duitnya, akan ada timing asal lo hasilkan (konten) terus. Kalau mau travel bloger untuk monetisasi, tapi nulis sebulan dua bulan sekali, ngapain? Kalau gue niatnya bikin orang inget bahwa gue ada sebagai referensi lo mau nonton, ngopi, atau traveling." (M-2)

BERITA TERKAIT