05 December 2019, 05:30 WIB

Sumber Daya Manusia Unggul


Elfindri Guru Besar Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Universitas Andalas, Sumatra Barat | Opini

Dok.MI/Tiyok
 Dok.MI/Tiyok
Opini

PERTANYAAN Presdir Metro TV Suryopratomo pada salah satu program Metro TV Senin (2 Desember 2019) kepada panel rektor tentang definisi sumber daya manusia (SDM) unggul menarik untuk dibahas. Mengingat masih rancu dan belum terlihat definisi yang kira-kira searah antarjawaban rektor.

Menyatakan SDM unggul memang mudah. Namun, perlu definisi yang jelas agar diskusi tentang prioritas pembangunan sumber daya manusia menjadi lebih terarah. Jika kita ingin mengejar target 'negara berpenghasilan tinggi 2045', sdm unggul tentu haruslah menghasilkan manusia yang mandiri, kompetitif untuk kemandirian bangsa.

Mandiri adalah mampu berdiri di atas kaki dan memikul di pundak sendiri. Dalam arti yang lebih luas, Indonesia akan mampu mengambil posisi unggul pada bidang-bidang spesifik. Kompetitif dimaknai dengan mampu bersaing pada skala internasional atau setidaknya pada pasar dalam negeri 'beyond national market', baik tenaga kerja maupun produk-produk yang dihasilkan.

Saat ini Indonesia masih berada pada rangking 36 dari 137 negara. Unsur pendidikan tinggi 'menyumbang' ketertinggalan daya saing bangsa, di samping buruknya infrastruktur.

Flagship

Dengan keberadaan lebih dari 100 PTN dan 4000-an PTS, mewujudkan SDM unggul memerlukan berbagai upaya. Pertama, proses pendidikan di PT mampu menggenjot capaian pemerataan kualitas, baik penguasaan ilmu pengetahuan dasar maupun inovasi yang dilakukan dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi.

Unsur-unsur yang dinilai lebih kepada perkembangan dari keilmuan 'scientific development' itu sendiri. Praktiknya, lebih banyak diukur melalui seberapa jumlah publikasi yang dihasilkan para dosen di perguruan tingginya.

Pencapaian dari kualitas memang diperlukan. Akan tetapi, kita akan terjebak jika kualitas yang dikejar bersifat umum. Ini tidak sejalan dengan pemilihan dan kekuatan yang akan muncul di kemudian hari. Sebagai akibat, anak bangsa akan banyak menganggur walau mereka sudah memiliki ilmu yang tinggi.

Kedua, kualitas SDM tidak saja dapat terpenuhi jika tidak diiringi dengan 'relevansi'. Unsur kedua ini lebih menekankan keterpakaian dari berbagai ranah yang dimiliki SDM. Bisa keilmuan yang cocok dengan yang diperlukan, juga bisa jadi keterampilan yang dapat digunakan sesuai dengan zamannya.

Dengan demikian, unggul dalam konteks ini mesti memenuhi dua hal. Selain dari berkualitas, juga diiringi dengan keterpakaian keilmuan, keterampilan, maupun sikap berbangsa dan bernegara.

Untuk kita sampai ke pemenuhan dua hal di atas, Indonesia mesti memilih bidang-bidang apa saja dalam jangka panjang untuk mandiri dan unggul. Selama ini arah dari penguatan pendidikan tinggi masih belum jelas alias samar-samar.

Untuk bisa unggul tentu pendidikan tinggi kita tidak akan bisa mengikuti capaian yang sudah ditunjukan perguruan tinggi di negara maju. Mengingat jika mengikuti mereka, Indonesia akan hanya menjadi follower dan akan selalu ketinggalan. Oleh karenanya, mesti ada kepastian pada bidang-bidang apa saja yang memiliki kekuatan bagi negara ini dalam jangka panjang.

Prioritas 10 bidang riset ialah titik mulai jika bicara SDM unggul dalam jangka panjang. Misalkan, jenis pangan apa yang membuat Indonesia mandiri dalam jangka panjang. Bidang obat-obatan apa yang membuat Indonesia tidak akan selalu tergantung kepada impor obat-obatan. Di bidang energi apa agar input produksi Indonesia akan efisien dalam jangka panjang. Begitu juga bidang transportasi, pertahanan dan keamanan, serta bidang-bidang lainnya.

10 bidang prioritas benar-benar terumuskan masing-masingnya agar lebih selektif dan terarah. Belajar dari Jerman, misalnya, unggul dalam bidang otomotif terseleksi dan Indonesia tidak akan mungkin unggul di bidang itu atau belajar dengan Korea Selatan yang unggul di bidang produk-produk kosmetik.

Kepastian akan pilihan yang lebih spesifik perlu segera dirumuskan. Maka itu, pemerintah melalui Presiden Jokowi dalam mengibarkan flagship dan PT dapat diarahkan untuk mewujudkan pencapaian unggul itu.

Arah investasi sumber daya

Selanjutnya, ketiga, dengan mengacu kepada flagship di atas, rekrutmen dosen dan pengembangan bidang laboratorium bisa lebih terarah. Tidak seperti sekarang, yang mana rekrutmen dosen belum mengacu kepada pencapaian keunggulan bangsa.

Demikian juga fasilitas laboratorium. Mengingat laboratorium di PT usianya kadang lebih tua jika dibandingkan dengan usia dosennya sendiri. Bagaimana mungkin laboratorium yang ada sekarang akan membuat SDM kita akan unggul jika cenderung ketinggalan?

Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan perbaikan regulasi tentang sistem rekrutmen dosen, sistem pemanfaatan dosen, termasuk pengembangan pusat-pusat kekuatan di perguruan tinggi yang terpilih.

Presiden melalui menteri dapat menugaskan mandat khusus kepada PT tertentu untuk mengembangkan riset yang mengarah kepada kemandirian bangsa.

Keempat, tentunya dengan arah yang jelas demikian didukung dengan sumber pendanaan yang ditingkatkan dari kondisi sekarang. Jika saja arah dari peningkatan pendanaan lebih spesifik kepada pencapaian keunggulan bangsa, akan menghasilkan SDM unggul tidak dengan 'hujan gerimis lagi seperti sekarang. Akan tetapi, dengan jumlah pembiayaan dan komitmen anggaran yang memadai.

BERITA TERKAIT