04 December 2019, 22:15 WIB

9 Hari Penindakan Jalur Sepeda, Polisi Tindak 594 Pelanggar


Tri Subarkah | Megapolitan

MI/Andry Widyanto
 MI/Andry Widyanto
Pelanggaran jalur sepeda oleh bajaj

DIREKTORAT Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya menindak 594 pelanggar jalur sepeda. Angka tersebut tercatat sejak 25 November sampai 3 Desember 2019.

Menurut Kasubdit Gakkum Ditlantas PMJ Kompol Fahri Siregar mayoritas pelanggar dilakukan oleh pesepeda motor, yakni 573 pelanggaran.

"Jumlah mobil yang melanggar sebanyak 17, bajaj sebanyak 4," kata Fahri kepada Media Indonesia, Rabu (4/12).

Sementara itu, Fahri menyebut pelanggaran jalur sepeda paling banyak terjadi di dua ruas jalur fase pertama.

Di Jalan Pemuda Jakarta Timur, Ditlantas mencatat terjadi 150 pelanggar, sedangkan di Jalan Pramuka, ada 98 pelanggar.

Baca juga : 653 Kendaraan Ditilang akibat Melintas di Jalur Sepeda

Fahri mengklaim, masyarakat sudah tertib dan memahami ihwal keberadaan jalur sepeda. Namun pantauan Media Indonesia di lapangan menemui fakta yang berbeda.

Di sepanjang Jalan Pemuda hingga Jalan Pramuka misalnya, masih terlihat pesepeda motor yang menerobos jalur sepeda. Padahal, sudah terpasang cone oranye sebagai pembatas antara jalur sepeda dengan jalur kendaraan bermotor.

Di kawasan TU Gas Jalan Pemuda, Media Indonesia sempat menyaksikan satu pesepeda yang mengusir dua tukang ojek daring saat berhenti di atas jalur sepeda.

"Tadi saya bilang, Pak ini jalur saya," kata Saleh, 69, sambil menirukan aksinya ke tukang ojek, Rabu (4/12).

Warga Pulogadung tersebut mengaku senang dengan keberadaan jalur sepeda. Saat ini, kata Saleh, ia tidak perlu was-was dengan kendaraan yang lain saat melintas di jalur khusus. Walakin, Saleh meminta agar pemerintah terus menambah fasilitas-fasilitas penunjang jalur sepeda seperti marka jalur.

Marco, 32, pesepeda lain menyebut penindakan pelanggar jalur sepeda tidak memberikan dampak yang berarti.

"Sama aja, banyak motor yang lewat juga," ucapnya.

Marco berharap agar polisi lebih rutin melakukan penindakan terhadap para pelanggar, terutama bagi tukang ojek daring di depan Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Selama memantau jalur sepeda di Jalan Pemuda dan Jalan Pramuka, Media Indonesia tidak menemui keberadaan polisi yang menindak para pelanggar. Meskipun terdapat beberapa petugas Dinas Perhubungan yang berjaga di beberapa titik untuk mengawasi.

Baca juga : Polisi Bersikeras Larang Skuter Listrik di Jalur Sepeda

Fahri berkilah bahwa pihaknya telah menurunkan banyan personel untuk menindak pelanggar jalur sepeda, namun sistemnya mobile.

"Misalnya 2 jam di Jalan Pramuka, terus pindah ke tempat lain, karena kan kita nggak men-stand-by-kan anggota 24 jam. Kita kan ada pekerjaan lain, tapi bukan berarti tidak ada pengawasan, tidak ada penertiban, ada," tegas Fahri.

"Kalau standy di satu tempat, tempat itu aja yang tertib. Sementara ada 63 kilometer ruas jalur sepeda," pungkasnya.

Untuk diketahui, penindakan terhadap pelanggar jalur sepeda dimulai setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 128 Tahun 2019 tentang Penyediaan Jalur Sepeda.

Para pelanggar yang kedapatan menerobos jalur sepeda dikenakan dengan Pasal 287 Ayat (1) tentang Pelanggaran Rambu atau Marka Jalan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dengan denda maksimal Rp500 ribu. (OL-7)

BERITA TERKAIT