04 December 2019, 17:08 WIB

Jokowi Minta Manajemen Pengelolaan Beras Diperbaiki


Akmal Fauzi | Ekonomi

Antara/Puspa Perwitasari
 Antara/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo saat memimpin Rapat Terbatas pengelolaan beras pemerintah

PERSOALAN 20.000 ton beras Perum Bulog yang turun mutu dan terancam busuk mendapat perhatian Presiden Joko Widodo.

Dalam rapat terbatas ihwal Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah, Rabu (4/11), Presiden meminta kementerian dan lembaga terkait untuk segera memperbaiki manajemen tata kelola beras.

"Saya minta dibenahi manajamemen pengelolaan cadangan beras penerintah, penumpukan stok beras yang tidak tersalurkan harus jauh-jauh hari kita pikirkan," katanya di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/11).

Menurutnya, stok beras yang menumpuk bepengaruh terhadap meningkatnya biaya perawatan serta berpotensi menurunkan kualitas beras yang ada.

Untuk itu, Kepala Negara meminta data produksi beras benar-benar riil dan terkonsolidasi. Data tersebut dapat menjadi pegangan dalam mengambil kebijakan.

Baca juga : Pelepasan Stok Beras Bulog Bukan Berarti Dimusnahkan

"Sehingga kita memiliki pegangan data yang kuat dalam setiap mengambil keputusan dan langkah-langkah koreksi perbaikan yang akan dilakukan," terang Jokowi.

Dia pun meminta kementerian dan lembaga terkait untuk memikirkan solusi untuk mengurangi penumpukan beras karena memacu biaya perawatan beras di gudang. Menurutnya, harus ada pola baru dalam menyelesaikan pengelolaan cadangan beras.

"Saya minta regulasinya dan segera diselesaikan dan dibereskan, dibuat pola-pola baru dan terobosan baru," jelasnya.

Di samping itu, Presiden juga menyinggung ihwal produksi beras yang tidak merata di seluruh wilayah tanah air. Dalam distribusinya, beras Bulog masing-masing wilayah ada yang surplus dan defisit.

"Aspek ketersediaan menjadi hal yang penting, juga keterjangkauan terhadap pasokan juga penting. Saya melihat kuncinya efesiensi dan kehandalan dalam manajemen logistik," kata dia.

Baca juga : Banyak Penugasan, Bulog Rawan Bangkrut

Seperti diketahui, Bulog meminta penggantian anggaran untuk mengolah atau memusnahkan 20.000 ton beras yang sudah mengendap di gudang Bulog selama lebih dari setahun.

Sebelumnya, Direktur Utama Bulog Budi Waseso memastikan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 20.000 ton yang mengalami penurunan mutu tidak akan dimusnahkan seluruhnya.

Ia mengatakan beras sebanyak itu memang sudah tidak layak dikonsumsi manusia namun masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak atau bahan baku produksi ethanol. (OL-7)

BERITA TERKAIT