04 December 2019, 09:27 WIB

13 Desa di Kabupaten Aceh Barat Terendam Air


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

Antara
 Antara
 Sejumlah warga melintas di depan rumahnya yang terendam banjir di Desa Marek, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Senin (2/12/2019)

SETELAH hujan deras tiga hari lalu, sebanyak 13 desa di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh Setelah hujan deras sejak tiga hari lalu, sebanyak 13 Desa Di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, terendam banjir akibat luapan Sungai Krueng Meureubo.

Ratusan rumah warga di sepanjang aliran sungai tersebut terendam. Ketinggian air di kawasan permukiman warga mencapai 50 cm hingga satu meter. Lebih parah lagi sebagian jalan antardesa di kawasan itu juga ikut terendam. Tepatnya di empat kecamatan yakni Desa Alue Tampak, Pasi Jambu, Padang Mancang, dan Keude Aron wilayah Kecamatan Kaway XVI. Lalu Desa Marek, Blang Beurandang, Leuhan dan Desa Gapa 1 di Kecamatan Johan Pahlawan. Kemudian Desa Pasi Masjid, Pasi Pinang dan Desa Pasi Aceh, Kecamatan Meureubo, dan Desa Seumantok dan Desa Keutambang Kecamatan Pantee Ceureumen.

"Setiap musim penghujan lokasi ini jadi langganan banjir. Dalam setahun kadang bisa mencapai sepuluh kali atau lebih. Rumah warga di sini terendam banjir kiriman dari luapan Sungai Krueng Meureubo" kata Junaidi, tokoh masyarakat Aceh Barat, kepada Media Indonesia, Rabu (4/12/2019).

Untuk menghindari kemungkinan buruk, warga dibantu petugas dari Badan Penanggulangsn Bencana Kabupaten Aceh Barat dan relawan melakukan evakuasi warga ke tempat penampungan sementara yang lokasinya lebih tinggi. Misalnya balai desa, gedung sekolah, fasilitas umum lain dan membangun tenda dipinggiran badan jalan. Mereka yang dievakuasi adalah orang lanjut usia, orang sakit dan anak-anak di bawah umur.

baca juga: Ganjar Instruksikan Pemerintahan di Solo Raya Bebas Daging Anjing

Kondisi terakhir hingga hari Selasa (3/12/2019) genangan air bah mulai surut. Sebagian warga sudah pulang untuk membersihkan rumah mereka dari sendimen lumpur.

"Kerinduan kami hidup bebas dari banjir seperti mimpi belaka. Keresahan ini tidak akan berakhir tanpa kesadaran dari pbalak hutan di hulu sungai. Juga perlu penangan serius oleh perintah," tutur warga lainnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT