04 December 2019, 07:50 WIB

Jakarta Tetap Aman


Ferdian Ananda Majni | Megapolitan

NRC/L-1
 NRC/L-1
Ilustrasi

SEKITAR 2,5 jam setelah terjadi ledakan granat asap di kawasan Monumen Nasional (Monas), kegiatan operasional di kawasan tugu yang dibangun pada 1961 itu kembali normal. Masyarakat pun tetap berkunjung dan tidak ada penjagaan atau pengamanan khusus.

Siswanto, salah seorang ­pengunjung, mengatakan tetap merasa aman saat berkunjung ke Monas meskipun mengetahui kejadian ledakan itu.

“Pengamanannya kan sama saja seperti hari biasa, tidak ada yang spesial. Pasti dicek tas­nya, apa yang dibawa. Tapi ya sudah, nyaman-nyaman sa­­ja. Ini mau berlibur ke sini ba­­reng saudara saya yang da­­ri luar kota,” kata Siswanto, ke­­marin.

Tika, pengunjung lainnya, juga merasa liburannya kali ini ke Monas menyenangkan seperti biasanya meski ia sudah tahu ada ledakan granat pada pagi harinya.

“Iya, saya tahu pas sudah sampai di sini, tapi kepalang tanggung, saya tungguin sampai buka. Ada atau enggak ada (ledakan granat) sebenarnya saya tetap liburan ke Monas,” kata Tika.

Kapolda Metro Jaya Irjen Ga­­tot Eddy Pramono menyebut­kan ledakan di kawasan Monas itu diduga berasal dari granat asap yang ditemukan anggota TNI yang pagi itu sedang berolahraga.

“Asal granat itu akan kita dalami karena anggota masih mengumpulkan informasi barang itu dari mana,” ujar Eddy dalam jumpa pers bersama Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono di kawasan Monas, Jakarta Pusat, kemarin.

Eddy mengatakan ledakan itu mengakibatkan dua anggota TNI terluka. Keduanya saat ini telah dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto untuk mendapatkan perawatan intensif.

Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono menyebutkan korban luka atas nama Serma Fa­­jar Arisworo dan Praka Gu­­­­nawan Yusuf, anggota Markas Komando Garnisun Tetap (Mako Gartap) yang ada di Jalan Medan Merdeka Timur.

“Korban atas nama Serma Fajar, tangan kiri agak parah pas pegang granat asap. Kondi­si sekarang sadar, bahkan masih bisa duduk,” ujar Eko.
Adapun Praka Gunawan mengalami luka ringan di bagian paha.
“Dia bahkan yang minta tolong dan bantuan,” ujar Eko.

Evaluasi SOP

Ketua Komisi III DPR, ­Her­man Herry, meminta Polri melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional standar (standard operating procedure /SOP) penggunaan senjata dan alat peledak. Hal itu dianggap penting, khususnya setelah ada peristiwa ledakan di kawasan Monas, kemarin.
Ledakan tersebut sudah di­­konfirmasi berasal dari granat asap milik polisi anggota pasukan pengendalian massa (dalmas).

“Saya instruksikan Polda Metro Jaya untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terkait ledakan granat asap tersebut. Publik butuh penjelasan lengkap, termasuk asal-muasal granat asap yang meledak di Monas pagi ini,” ujar Herman di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin menga­­ta­kan evaluasi memang harus dilakukan. Tidak hanya ter­­kait dengan penggunaan sen­­jata dan peledak, tetapi ju­ga penja­gaan keamanan di wilayah krusial sekitar Istana Merdeka.

“Tentu evaluasi itu tentu. Dalam area yang cukup prime, ya, ini kan krusial,” tutur Azis.

Sementara itu, DPP ­Partai NasDem meminta aparat Polri dan TNI mengusut tuntas kasus ledakan di Monas tersebut.

“NasDem mendorong ­peng­­­­usutan hingga tuntas agar masyarakat mendapatkan kejelasan tentang peristiwa ter­sebut, apakah berkaitan dengan aksi terorisme atau bukan,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Ahmad M Ali. (Ant/Ins/Dro/Put/Iam/Pro/X-10)

BERITA TERKAIT