04 December 2019, 07:30 WIB

Goplay Perkenalkan Potensi Film Indonesia


Antara | Hiburan

gojek.com
 gojek.com
Tangkapan layar goplay 

GOJEK, sejak tiga bulan terakhir, telah meluncurkan aplikasi baru Goplay yang memungkinkan pengguna menonton ratusan film Indonesia secara streaming.    

Keputusan Gojek mengekspose film-film Indonesia merupakan salah satu upaya aplikasi asal Indonesia itu untuk memperluas pasar penonton sekaligus sebagai kontribusi bagi perkembangan film nasional, selain memanfaat kekosongan ceruk aplikasi yang menyediakan film dalam negeri untuk ditonton.    

CEO Gojek Entertainment Group Edy Sulistyo dalam wawancara dengan media dari Indonesia di sela-sela penyelenggaraan Singapore Media Festival, di Singapura, Selasa (3/12), mengatakan pihaknya tertarik memperluas distribusi film Indonesia.    

"Lokal konten kita semakin baik, jadi kita masuk ke streaming sehingga membantu mengangkat film Indonesia agar eksposurenya semakin meningkat," kata Edy.    

Baca juga: Frozen 2 Bertahan di Puncak Box Office

Edy berkeyakinan dengan 155 juta pengguna aplikasi Gojek di seluruh Indonesia, peluang aplikasi Goplay diunduh dan kemudian fiturnya dinikmati penonton Indonesia bahkan Asia atau global akan semakin meningkat, terutama dengan berkembangnya tren penggunaan aplikasi video streaming untuk menonton film.

Selain menggandeng platform hiburan dalam bentuk film, Goplay juga berencana menyajikan konten dalam bentuk mini seri yang diproduksi sineas dan rumah produksi di dalam negeri.

Menurut Edy, meski masih sedikit terasa asing di mata penonton Indonesia, platform ini berpeluang berkembang dan bisa menjadi patokan tren di masa mendatang.    

"Kita mau berkolaborasi dengan industri lainnya seperti rumah produksi. Ada beberapa yang sudah jalan dan mimpi kita adalah bekerja sama dengan industri perfilman Indonesia," paparnya.    

Aplikasi Goplay diluncurkan sejak 26 September 2019 dengan potensi pasar setidaknya 155 juta pengguna aplikasi Gojek.

Konten yang mereka sediakan 95% adalah film Indonesia dan 5% konten film asing dengan tujuan validasi pasar. (OL-2)

BERITA TERKAIT