03 December 2019, 20:11 WIB

Amandari Batik dan PLN Perkenalkan Inovasi Membatik


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

Antara/Raisan Al farisi
 Antara/Raisan Al farisi
Kain Batik yang dipamerkan di Festival Batik Jawa Barat

GALLERY Amandari Batik bersama dengan PT. Perusahaan Listrik Negara akan menggelar ajang bertajuk "The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy", pada Rabu, (4/12) di Magnolia Room Hotel Gran Mahakam, Jakarta.

Dalam ajang itu, PLN juga akan memperkenalkan inovasi membatik lewat kompor listrik yang sepaket dengan canting listrik (elektrik). Hal itu menurut Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani, untuk lebih menggaet kamu muda mencintai proses membatik,

'Kami menghadirkan suatu trasformasi yaitu mengajak kaum millenial yang budayanya adalah serba instan, dapat tetap turut membatik dengan menggunakan kompor listrik dalam penggunaan dengan cantingnya yang efisiensinya bisa mencapai 63%,“ ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (3/12).

Menurut Sripeni, batik lebih dari sebuah kain, batik merupakan warisan dari pikiran besar para leluhur yang menggambarkan kebijaksanaan sebagai pedoman tentang cinta, kesabaran, kedamaian, dan kehidupan.

Pemilik Gallery Amandari Batik Uti Rahardjo mengatakan, dengan alat yang inovatif tersebut, pengrajin tidak perlu lagi sibuk untuk mengecek tingkat panasnya. Sehingga pengrajin bisa lebih fokus membuat batik.

Baca juga : Ingin Sukses, UMKM Batik dan Lurik Harus Bermitra

"Kalau lebih fokus, harapannya proses pembatikan bisa lebih cepat, dan secara ekonomis lebih naik," ujar Uti.

Dengan inovasi dari PLN tersebut, Uti menegaskan, idealisme dalam membatik bisa dipertahankan, tidak sekedar mencetak motif dalam sebuah kain, seperti batik printing, tapi tetap mempertahakan proses membatik secara tradisional.

"PLN memiliki visi dan misi yang ingin memelihara legacy. Legacy-nya PLN adalah membuat sesuatu lebih praktis, bersih, dan aman," kata Uti.

Ajang The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy, lanjut Uti akan mengundang sejumlah kalangan, seperti sosialita, pengusaha, pemerhati budaya maupun fashionpreneur dengan jaringan internasional untuk makin mengglobalkan batik.

"Untuk itu kami mengundang mereka, yang concern dengan batik, dan fashionpreneur yang konsen dengan batik dan sudah berpengalaman di beberapa negara," ungkapnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT