03 December 2019, 19:46 WIB

Bulog Baru Salurkan Beras Satu Juta ton Sepanjang Tahun Ini


Andhika prasetyo | Ekonomi

MI/ 	Andry Widyanto
 MI/ Andry Widyanto
Stok beras di Gudang Bulog, SUnter, Jakarta

SEPANJANG 2019, Perum Bulog telah menyalurkan sekitar satu juta ton beras kepada masyarakat.

Secara rinci, alokasi penyaluran terbesar masih dalam bentuk operasi pasar dan bantuan bencana alam yakni mencapai 491 ribu ton. Disusul untuk kebutuhan beras sejahtera (rastra) 353 ribu ton dan penjualan komersial sebanyak 200 ribu ton.

Volume tersebut dinilai masih sangat kecil mengingat stok pembuka perseroan pada awal tahun ini mencapai 2,1 juta ton. Ditambah serapan sepanjang 2019 mencapai 1,1 juta ton, perseroan sempat memiliki persediaan sampai 3,2 juta ton.

Dengan penyaluran yang telah dilakukan, Bulog masih menyimpan stok sekitar 2,1 juta ton.

"Pasar itu sedang jenuh. Stok di lapangan sangat banyak. Kami per hari hanya bisa menggelontorkan 3.000 ton. Padahal, perintah Kemendag itu 5.000 ton per hari," ujar Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh di Kantornya, Jakarta, Selasa (3/12).

Melihat kondisi tersebut, perseroan pun mengusulkan penambahan alokasi pemberian beras kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Saat ini, melalui program tersebut, setiap KPM mendapat jatah beras sebanyak delapan kilogram (kg) per bulan.

Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kebutuhan beras per keluarga mencapai 30 kg per bulan.

"Kami usulkan ditambah jadi 20 kg per bulan. Sebanyak 10 kg dipasok dari Bulog. Itu sudah cukup untuk menyelamatkan stok Bulog saat ini," jelas Tri.

Sebagaimana diketahui, BUMN Pangan itu kini tengah mengalami kesulitan dalam penyaluran beras pasca ditutupnya program rastra.

Berdasarkan data Bulog, penyaluran rastra terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2015, jumlah rastra yang tersalur mencapai 3,26 juta ton. Turun menjadi 2,79 juta ton pada 2016 dan kembali merosot tipis ke 2,55 juta ton pada 2017.

Penurunan signifikan terjadi pada 2018 ketika penyaluran hanya 1,21 juta ton dan untuk tahun ini, pembagian rastra hanya ditetapkan 353 ribu ton.

Ketika, di sisi hulu, Bulog diwajibkan melakukan serapan hingga 1,5 juta ton, di hilir, pasarnya dikecilkan.

Hal tersebut akhirnya menjadi persoalan serius karena beras-beras yang ada di gudang berpotensi mengalami penurunan mutu atau kerusakan. (OL-8)

BERITA TERKAIT